Archive | Cerpen RSS feed for this section

Cerpen – Cerpen Terbaik

10 May

Jawapos sebagai koran terbesar, dan terluas jaringanya,

Setiap hari minggu selalu menampilkan halaman sepesial, yaitu Cerpen dan Wayang Durga. Cerpen Diisi oleh cerpenis-cerpenis ternama, sedang Wayang durga di isi tetap oleh sujiwo tedjo.

silahkan anda nikmati hasil karya-karya beliau, yang sangat mengaduk-aduk perasaan pembacanya.

Anda Ingin langganan Jawa pos? Hubungi Agen koran terdekat..

Suara Serak di Seberang Radio

9 May
[ Minggu, 09 Mei 2010 ]
Suara Serak di Seberang Radio
Menjelang tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Akan terdengar decak kunyahnya; nikmat seruputan di rahangnya. Aduhai, sembari menunggu gelegak tengguli sempurna menjadi gula merah, Yarman menaruh radio itu di atas lututnya dan mengasyiki tombol pencari gelombang. Sambil duduk menyandar ke dinding bambu, kepalanya menggeleng ritmis.
Continue reading

Sipleg

6 May

[ Minggu, 25 April 2010 ]

Sipleg

LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serbaingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Bagiku, Sipleg perempuan dengan buku terbuka. Tak sembarang orang bisa membacanya. Akulah salah satu perempuan yang dibiarkan memasuki masa lalunya dengan santai. Tanpa dia pernah tahu aku telah mendapatkan cerita tentang hidupnya tanpa dipaksa. Aku juga tidak pernah merengek.

Continue reading

Sarpakenaka

6 May

[ Minggu, 18 April 2010 ]

Sarpakenaka

PAK Karyono menatapku dengan tajam. Seperti tengah mengulitiku dengan kejam. Di luar langit mendung seolah mengekalkan pertemuan kami.

”Anak jadi akan membawanya pulang sekarang?” Pertanyaan yang semula sangat kuharapkan itu tiba-tiba terasa lain ketika benar-benar diucapkan. Memaksaku berpikir ulang dengan cepat dan keras. Waktu terus mengalir dengan deras. Menghantamku berulang. Apakah aku benar-benar ingin membawanya pulang. Jika tadi aku bersikeras untuk melihatnya, memaksa orang tua itu untuk memperlihatkan benda yang berbulan-bulan ini kucari dan lantas membawanya pulang, kini aku jadi balik bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku benar-benar menginginkannya. Apa pentingnya. Bukankah aku sudah berhasil mengumpulkan seluruh cerita. Lengkap. Dari hulu ke hilir. Seluruh pertanyaanku sudah menemukan jawabannya. Keberadaan benda itu tak lagi jadi hal terpenting. Buat apa aku membawanya pulang dan menguburkannya di samping makam simbah. Bahkan mungkin simbah pun tak menginginkannya. Tapi seluruh pencarian ini akan berakhir. Harus segera kuakhiri. Entah bagaimana caranya.

Continue reading

Malina dalam Bus Tua

6 May

[ Minggu, 04 April 2010 ]

Malina dalam Bus Tua

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.

Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. Udara cukup dingin, digesernya kaca jendela sampai rapat. Tas warna hitam yang mengembung ia letakkan di antara kedua kaki.

Continue reading

Festival Topeng

6 May

[ Minggu, 28 Maret 2010 ]

Festival Topeng

1. Tidak ada

PERKENALKAN, namaku Prameswari. Kata orang tuaku, arti namaku adalah permaisuri. Karena aku dilahirkan dengan kecantikan seorang putri. Jadi sudah sepantasnya kalau orang tuaku berharap aku memiliki kemewahan hidup seorang permaisuri.

”Nasibmu akan menjadi istri pejabat tinggi yang kaya raya. Paling tidak pangkat suamimu itu adalah kepala desa,” begitulah ibu berharap aku mendapatkan suami yang kaya, berpangkat, dan mempunyai jabatan tinggi.

Nah, suamiku bernama Drajat Hartono. Kata orang tuanya, arti namanya adalah laki-laki yang berderajat dan berharta. Tetapi ternyata tidak ada hubungannya antara nama dengan nasib manusia. Karena suamiku bukan kepala desa apalagi pejabat tinggi yang kaya raya. Suamiku cuma seorang pembuat topeng.

Continue reading

Miss Konseli

2 May

[ Minggu, 02 Mei 2010 ]

BARU saja, Andrea, siswi kelas 2 SMA, menghubungi seluler Miss Konseli, begitu siswa-siswa di sekolah memanggil Rima. Sore itu juga ia ingin bertemu dengannya untuk sebuah urusan yang sangat penting. Padahal itu hari Minggu!

Seingat Rima, hanya ada satu alasan mengapa seorang siswi menelepon selulernya di luar jam kerjanya sebagai konselor di sekolah dan ingin bertemu dengannya saat itu juga. Alasannya, siswa itu hamil! Berkelahi, nyontek, melawan guru, nilai pelajaran turun, berbeda pendapat dengan orang tua, atau putus cinta, itu persoalan yang bisa dibahas saat jam kerja atau digolongkan pada masalah yang bisa ditunda.

Rima ingat, kala itu, Sarah menelepon ingin bertemu padahal ia sedang cuti. Rima tak bisa menolak karena siswi kelas tiga itu memohon-mohon sambil menangis. Setiba di depannya, Sarah langsung menunjukkan pipa tes kehamilan bertanda positif dan mengatakan, ”Miss Konseli, saya hamil…” Suara Sarah gemetar, wajah tegang, dan mata sembap kebanyakan menangis.

Rima beku mendengarnya. Membuatnya lupa mengajak Sarah masuk ke rumah. Lupa untuk merangkulnya, menenangkan, memberinya kekuatan.

Continue reading

Dewi Dahanawati: Gatutkaca Sungging

2 May

[ Minggu, 02 Mei 2010 ]

Dewi Dahanawati: Gatutkaca Sungging

SUNGGING? O, ternyata Raden Purbaya itu orangnya bisa tengkurap sambil bokongnyanjentit munjung ke atas to, Truk?” Bagong bertanya pada kakaknya. Purbaya adalah nama alias Kaca Negara atau Tutuka, yang populer dijuluki Prabu Gatutkaca.

”Itu bukan sungging, Gong. Itu nunggingSungging itu kalau wajah kita memerah, punya rasangganjel karena warna-warni kelakuan atau perkataan orang lain. Lengkapnya tersungging.

”Wah, Truk, kalau gitu sebagai rakyat saya tersungging karena KPK memeriksa Pak Boediono dan Mbak Sri Mulyani di kantornya masing-masing soal kasus Century.”

”Kenapa tersungging, Gong?” tanya Petruk. Suaranya masih gandem tanpa beban seperti biasanya. ”Pak Boediono dan Mbak Ani itu tokoh yang supersibuk. Wajar kalau lembaga kebanggaan rakyat, KPK, njanur gunung alias pohon aren alias dengaren alias tumben harus mengorbankan harga dirinya, mengorbankan warna logonya yang merah-hitam pertanda tegar, sampai mau-maunya sowan pada tokoh yang diperiksa…”

”Ya, tersungginglah aku, Truk. Kalau memang beliau-beliau sibuk, mbok ya non-aktif saja sementara. DPR dulu kan juga sudah kasih lampu kuning pada mereka untuk non-aktif sementara. Jangan dipaido kalau sekarang aku tersungging, Truk.”

”Itu bukan tersungging! Itu tersinggung!” Gareng dengan suara sengaunya cepat menukas Bagong dan Petruk. ”Tersungging itu kalau kita tersenyum kecil. Misalnya, deklamasi…Ooo… gadis manis di pantai biru..camar-camar memutih di sekeliling…ada senyum tersungging di langit bibirnya…

Bagong njeplak. ”Itu sungging dalam bahasa Indonesia, Reng. Sungging bahasa Jawa artinya digambar dan diwarnai. Contohnya orang bikin wayang. Kulit kerbau itu dipahat dulu atauditatah. Setelah ditatah, baru digambari dan diwarnai. Itulah sungging. Kerajinan tatah-sungging artinya keterampilan memahati dan menggambari kulit kerbau. Abis ditatah it uterusdisungging sampek menjadi wayang kayak kita-kita ini.”

Lha, kalau sudah mudeng arti sungging kenapa kamu tadi nanya, Gong?”

Kura-kura dalam perahu kan boleh-boleh saja,” potong Bagong dengan suara khasnya yang tercekik, nyaring namun sember. ”Wong pura-pura tidak tersinggung juga boleh kok. Kita semua ini kan sesungguhnya tersinggung KPK mau-maunya mendatangi kantor orang yang diperiksa, tapi kan seluruh kita pura-pura tidak tersungging, eh tersinggung? Hayo…”

***

Kocap kacarita, di Kerajaan Raksasa Dahanapura, putri raja Dewi Dahanawati di depan raja dan hulu balang kerajaan sedang menyungging seorang tokoh yang teramat dicintainya di dalam mimpi semalamnya. Ia sungging pemuda yang capet-capet muncul dalam impiannya itu tidak di kulit kerbau. Sang Dewi menyunggingnya di tembok merah jambu taman Dahanapura.

Sudah lama putri cantik yang tak berwujud raksasa itu nganggur tidak menyungging. Kepolisian sudah lama tidak meminta jasanya untuk menyungging tersangka atas dasar ciri-ciri wajah menurut keterangan para saksi. Maklum, para pembunuh sekarang ini adalah orang-orang top yang wajahnya sudah dikenal. Tak perlu jasa juru sungging alias penggambar sketsa.

”Hah? Itu bukan para pembunuh. Itu para koruptor. Beda,” kata Bilung, ponokawan di dunia raksasa.

Togog mengingatkan sejawatnya, ”Bilung, koruptor itu pembunuh juga. Malah lebih hitam ketimbang pembunuh. Pembunuh mateni menungso sa’kal mati. Korbannya tidak sakit berlama-lama. Koruptor juga mbunuh tapi mbunuhnya pelan-pelan. Koruptor mengurangi jatah sandang-pangan-papan kawula sak negara. Mereka tidak mati seketika. Mereka tetap hidup. Tapi hidupnya kejet-kejet susah tak beda dengan orang sekarat… Makanya di China koruptor ditembak mati. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud M.D. sebenarnya juga sudah setuju hukuman mati untuk para koruptor. Tapi…”

”Tapi apa, Gog?” ujar Bilung sambil kembali menoleh ke sunggingan sang dewi.

Oooo… Gandane kang sekar gadung….Ooooo….Derodog…dog…dog!

Dewi Dahanawati sudah lama tidak menyungging para koruptor alias pembunuh lantaran mereka adalah wajah-wajah yang kita sudah tahu-sama-tahu. Makanya, kepiawaian putri raja Prabu Kala Dahanamukti itu menurun. Meski keterampilannya menurun, sang dewi tetap tekun dan sabar bekerja siang malam sampai keringatnya yang seharum sedap malam bercucuran. Ia tak ingin serbacepat bagai koruptorwati. Tekun. Telaten. Sabar. Genap sembilan tahun akhirnya sunggingan besar di tembok merah jambu sudah rampung dan membuat Patih Dahanapati kaget.

Weladalah, Sinuwun Prabu Kala Dahanamukti,” hatur Sang Patih sambil masih terkaget-kaget memandang hasil sunggingan, ”Kalau impian sang dewi seperti ini, wujudnya raksasa, rambut gimbal, pundak besar dan kokoh… jelas ini raja Pringgandani, Prabu Anom Gatutkaca, anak Bima Sena dengan Dewi Arimbi, seorang perempuan raksasa…”

Ganti sang raja yang terperanjat. Tubuhnya tersentak sampai merontokkan daun-daun anyelir dan suplir di seluruh taman. ”Bukankah Raden Gatutkaca itu ksatria yang tampan, Patih?”

***

Menurut kakak Semar, Togog, ponokawan yang mengabdi kaum raksasa, Gatutkaca aslinya memang raksasa. Buruk rupa. Nama alias lainnya adalah Guritno, Krincing Wesi dan Bimasiwi. Tapi dasar orang Jawa itu munafik. Mereka nggak mau terima ada orang baik seperti Gatutkaca kok wajahnya jelek. Diubahlah Gatutkaca menjadi tampan. Konon sejak Susuhunan Paku Buwana II memerintah Kartasura, seniman kriya wayang diminta membuat Gatutkaca setampan bentuk salah kaprahnya sampai hari ini.

”Memang kalau orangnya baik terus tampangnya jelek, kenapa, Gog? Kan kenyataannya banyak orang apik hatinya tapi rupane elek?” tanya Bilung.

Gini lho, Lung…Ehmmm…Kalau kita nggak munafik, kita akan legowo terima orang baik bermuka menakutkan. Nek pancen ndak ngganteng, foto-foto pemilukada di pohon-pohon dan gardu listrik itu ndak usah mbagusi dingganteng-nggantengno…Tapi kita ini orang-orang yang munafik…”

”Buktinya?”

”Buktinya masyarakat benci korupsi, tapi mereka nggak menghargai pejabat yang miskin. Kalau kita mantu dan pejabat kadonya minim, kita akan ngrasani. Kalau istri pejabatnyandangnya gak bagus, emasnya sepuhan, tasnya kodian, kita akan ngrasani sampai sekampung. Kalau misalnya…”

”GOOOOG!!!”

Waduh Togog kaget namanya diteriakkan oleh Prabu Dahanamukti. Badannya biarpun tambunmental sampai setinggi beringin karena Sang Prabu memanggil Togog sambil kakinyamenggedrug bumi. Bilung yang kerempeng malah membubung sampai nyangsang di puncak tiang bendera.

”Togok…Jangan-jangan samakan aku dengan yang lain…dengan orang-orang Nusantara, ya!!!” kata Sang Prabu. ”Kita ini Kerajaan Dahanapura. Kerajaan seberang. Lain lubuk lain ikannya. Nggak peduli Gatutkaca itu wujud sejatinya raksasa atau bukan…Yang penting hatinya baik. Ayo Patih Dahanapati… Ojok wedi kangelan… Ayo kita cari bareng-bareng Raden Gatutkaca yang diimpi-impikan oleh bendara ayumu Dewi Dahanawati…Kita mohon pemuda ini datang ke sini dengan tata krama dan budi bahasa. Adapun kalau dia menolak, Patih… hahaha… sor mejo keh ulane jo gelo wis carane...Tih…Perang, Tih!!! Perang !!!”

***

Raden Krincing Wesi saat itu sedang melanglang buana mencari bantuan arsitek untuk membangun Candi Saptarengga. Candi dibangun buat Pandawa sebagai tempat beribadah agar rakyat kerajaan mereka, Amarta, semakin terbebas dari tipu daya dan sandiwara kaum wakil rakyat. Di tengah jalan Guritno kepergok bala tentara raksasa Dahanapura.

Perang terjadi karena Bimasiwi semula menolak tawaran untuk dinikahkan dengan Dewi Dahanawati. Pikir Purbaya, kalau bapak dan kakek moyangnya raksasa, anaknya pasti raksasa juga. Padahal, sebagai raksasa, Gatutkaca ingin memperbaiki keturunan. Tutuka ingin kelak anaknya berwujud dan berhati manusia.

Gatutkaca kalah. Gatutkaca ditawan ke Dahanapura. Melihat Dewi Dahanawati yang ternyata bukan raksasa, dada Gatutkaca langsung berdaun waru yang bentuknya mirip simbol hari Valentin.Tapi ia ingat, misinya pergi bukan untuk asmara. Misinya adalah mencari arsitek dan tenaga pembangun Candi Saptarengga. Wah, Prabu Dahanamukti sanggup menyumbangkan seluruh staf arsiteknya untuk pembangunan candi itu. Baru Gatutkaca mau menikahi Dewi Dahanawati.

Anak mereka asli berwujud manusia. Namanya Jaya Sumpena. Sumpena bermakna mimpi. Artinya putra yang bercikal bakal dari impian sang ibu tentang calon suaminya.

Sayang, Jaya Sumpena yang mewarisi bakat ibunya itu kelak menjadi pemuda pengangguran. Adakah pembaca yang punya lowongan kerja? Kasihan Jaya Sumpena. Kepolisian sudah tidak memerlukan jasa juru sungging, yaitu pembuat sketsa wajah calon pesakitan berdasarkan keterangan saksi. Seluruh pembunuh, yakni koruptor, sudah sama-sama kita kenali wajahnya.

The end.

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

RYAN

28 Apr

SAYA tak ingat lagi kalimat dia selengkapnya, namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya, melainkan si anak muda: ”They are my parents.” Sejak itu tiada lagi sesuatu yang perlu saya ragukan.

***

Barangkali sudah lama anak muda itu berada di tepi jalan sana, tetapi saya baru tahu ketika berdiri di balik gorden jendela ruang depan. Di bawah cahaya remang kekuningan lampu jalanan, ia coba membaca tulisan yang agaknya tidak jelas pada selembar kertas, lalu diselipkan dalam saku di balik dada jaketnya.

Demi mencegah tatapan mata para pejalan kaki di malam sesenyap ini, lampu ruang tamu sengaja saya padamkan. Saya sempat mengamati gerak-geriknya dengan rasa curiga ketika tangannya coba menggoyang jeruji pagar besi halaman depan. Tak jelas benar rupa wajahnya, tetapi pasti sosok seorang lelaki.

Saya sendirian saja menjaga rumah Mas Pras ketika beliau pergi mengantar Yu Karsi ke Bantul menengok cucu yang sedang parah menderita demam berdarah. Ya, ada saja bencana yang mengancam daerah ini: banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, lahar Merapi…

Belum lagi usai kesibukan mengatasi kerusakan akibat bencana gempa di pedesaan, kini mobil-mobil dinas puskesmas sibuk keluar-masuk perkampungan karena penyakit mulai berjangkit seiring tibanya musim penghujan. Kecemasan menjalar bak penyakit sampar yang mengerikan.

Mas Pras dan Yu Karsi sangat khawatir pada kondisi kesehatan cucunya. Mereka meminta saya tinggal di rumah sendirian beberapa hari saja, menunggu tim relawan Australia yang akan meninggalkan Jogyakarta awal bulan depan. Menurut rencana, mereka akan mengakhiri misi humaniternya di pedesaan, lalu istirahat beberapa hari di Bali sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke negeri mereka. Ini rombongan relawan terakhir dari Negeri Kanguru yang berada di Jawa Tengah sejak gempa. Mas Pras terpaksa menunda pertemuan dengan mereka.

Pada hari yang sama, Yu Dar, pembantu usaha keteringnya, pamit prei beberapa hari untuk menengok keluarganya di desa. Mengangkat kerabat dekat selaku pembantu, acap kali menyulitkan Mas Pras sendiri. Beliau lebih banyak mengalah demi mencegah salah paham di pihak kerabatnya di desa. Hal yang sejak awal telah diperingatkan istrinya. Namun Mas Pras mengizinkan Yu Dar cuti beberapa hari karena urusannya menyangkut bencana yang menimpa keluarganya di desa.

Cuaca sudah gelap dan senyap ketika saya memeriksa semua jendela dan pintu belakang. Dari jendela ruang makan saya lihat Yu Dar ternyata lupa mengentas jemuran sprei dan beberapa sawal bantal. Saya khawatir jangan-jangan si anak muda yang mencurigakan itu menunggu saat yang tepat untuk melompat ke halaman rumah dan menyambar jemuran Yu Dar. Cepat-cepat saya melangkah ke halaman belakang, mengunci pintu garasi, mengentas semua jemuran dan memalang pintu belakang.

Ketika saya balik ke ruang tamu dan mengintip dari sela gorden jendela, nampak si anak muda masih berada di tempatnya, tetapi sekarang asyik berbincang dengan seorang perempuan muda pengendara sepeda. Di bawah cahaya lemah lampu jalanan, saya lihat perempuan itu menuding ke kanan kemudian ke kiri sembari memegangi setang sepedanya, dan tiba-tiba menunjuk ke arah rumah Mas Pras. Saat itu timbul tanda tanya di hati saya, apa pula yang sedang mereka bicarakan tentang rumah ini, tentang Mas Pras dan istrinya, mungkin juga tentang Yu Dar dan kehadiran saya selaku tamu di rumah ini. Namun tiba-tiba perempuan itu menghela sepedanya, meninggalkan si anak muda yang tak juga bergeser dari tempatnya.

Saya merasa agak tenang ketika si anak muda melangkah ke arah yang sama sembari membenamkan kedua tangan dalam saku jaketnya dan menghilang begitu saja. Beberapa saat saya menunggu barangkali mereka muncul kembali. Ternyata tidak. Keduanya lenyap bak siluman takut kesiangan.

Lampu ruang tamu tetap tak saya nyalakan, tetapi televisi saya biarkan menyala dengan suara dikecilkan. Saya tak lagi peduli apakah si anak muda menyelinap di pekarangan rumah. Andai dia berniat jahat dan berhasil melompat masuk halaman, paling banter bisa menyambar ember karatan yang selamanya dibiarkan tersandar di sisi tembok garasi. Namun saya sontak tersentak ketika ponsel di sisi televisi meringkik-ringkik. Itu tentu Mas Pras atau Yu Karsi, pikir saya. Cepat-cepat ponsel saya angkat, tetapi suara di seberang sana ternyata datang dari mulut seorang perempuan yang tak saya kenal.

”Selamat malam, Pak. Betul ya ini rumah Pak Prasetya? Saya perlu bicara dengan beliau.”

”Ya, betul. Tetapi Pak Prasetya sedang berada di luar kota, belum pasti kapan pulangnya. Anda sendiri siapa?”

”Saya Ambar, anak Gama, Pak. Ada urusan mendesak yang perlu saya sampaikan.”

Wuah, anak Gama! Mau apa lagi kalau bukan mengemis derma! Akhir-akhir ini ada saja pelajar dan mahasiswa keliaran siang-malam mendatangi rumah-rumah, mengaku pengerah dana bagi para korban. Kalau mereka datang waktu siang, biar sepuluh ribu rupiah bolehlah. Tapi ini malam hari! Mas Pras sudah lama tidak percaya pada pengumpul dana. Kontan saya nasehatkan, ”Begini ya Mbak, kalau urusan derma, di kota ini Pak Prasetya sendiri salah seorang kordinator sekaligus donatur! Coba pikirkan, apakah beliau harus terus ditodong?”

Apa jawab dia? ”Lho, belum-belum kok Bapak sudah curiga… Saya tidak meminta derma. Saya mengantar seorang relawan. Dari Australi Pak! Dia bawa titipan untuk Pak Prasetya.”

Masya Allah, ternyata saya keburu nafsu menafsir kalimat si anak Gama! Padahal urusannya menyangkut titipan dari luar negeri, dan itu pasti berupa bantuan untuk korban gempa. Saya justru harus menerimanya, bukan menolaknya.

”Halo Pak!” Terdengar lagi suara Ambar karena saya lambat menjawab.

”Ya, teruskan saja ngomongnya. Titipan dari Australi?”

”Ya Pak. Di sebelah saya ini orangnya. Dia perlu menyerahkan titipan. Saya cuma mengantar saja.”

Titipan dari Australi! Ini pasti bantuan dalam jumlah besar berupa apa saja: selimut, bahan pakaian, makanan, obat-obatan, terkadang juga uang dalam bentuk transfer valuta. Tetapi saya bisa berbuat apa jika Mas Pras tak ada di tempat?

”Kalau bermaksud mengantar titipan, silakan saja,” saran saya. ”Kalian tinggal di mana? Tahu enggak alamat rumah Pak Pras?”

”Sejak tadi kami sudah di sini Pak, di luar pagar halaman rumahnya. Bapak sendiri siapa?”

”Saya adiknya!”

Saya bukan adiknya. Hanya karena pertimbangan keamanan, saya tidak mengaku tamu. Namun saya baru sadar, Ambar adalah perempaun muda bersepeda yang dari tadi mondar-mandir bersama si anak muda di luar sana. Tetapi saya mendadak curiga, jangan-jangan mereka pembohong, tukang todong yang berniat menyikat harta benda Mas Pras. Saya mulai merasa curiga pada Yu Dar, jangan-jangan perempuan itu kaki tangan si tukang todong, memberi mereka informasi bahwa rumah ini sedang ditinggalkan pemiliknya.

Kriminalitas memang sangat meningkat ketika kesengsaraan menimpa warga daerah ini sejak terjadi gempa. Manusia ternyata mampu melakukan apa saja demi kelangsungan hidupnya, termasuk menyikat harta benda sesamanya. Bahkan melakukan kekerasan dan pembunuhan, di mana perlu. Saya merasa bertanggung jawab atas keamanan rumah ini. Bodoh sekali jika saya biarkan Ambar masuk ke rumah ini bersama komplotannya. Jadi, saya bilang sebaiknya mereka menunda niatnya sampai Mas Pras pulang.

Cepat-cepat saya letakkan ponsel tanpa menunggu jawaban si anak Gama. Tetapi tak sampai semenit saya menjulurkan kaki di atas sofa, tiba-tiba ponsel yang bawel itu merengek lagi, berkali-kali. Jengkel rasanya meladeninya! Agaknya perempuan itu berkeras kepala mau terus bicara. Cepat-cepat saya angkat kembali ponsel.

”Saya sudah bilang lain kali saja, jangan sekarang! Tunda dulu hingga Pak Prasetya datang!”

Lho Dik, ada apa?”

Saya kaget. Ternyata bukan suara Ambar singgah di telinga saya, tapi suara Mas Pras sendiri!

”O maaf Mas, maaf, saya kira…”

”Sudah tidur Dik? Ngelindur?

”Belum, lagi nongkrong di depan televisi. Barusan ada yang nelepon, bilang mengantar seorang relawan. Dari Australi Mas! Ada titipan untuk Mas Pras.”

”Siapa dia?”

”Ambar. Dia bilang anak Gama. Saya tidak kenal. Malam-malam begini saya tidak meladeni.”

”Ambar, Dik? Dia memang pernah menelepon saya. Kalau menelepon lagi, beritahukan saja esok siang saya sudah pulang dan mereka bisa ketemu saya. Cucu saya masih di rumah sakit. Sudah agak baikan, tapi istri saya belum tega meninggalkannya. Gitu saja ya…”

Cepat-cepat ponsel saya letakkan lagi, lalu lari keluar dengan maksud mengejar Ambar. Mereka memang keras kepala, tak setapak jua beranjak dari sisi pagar besi yang terkunci sejak sore. Akhirnya mereka saya persilahkan masuk.

***

Ryan mengaku relawan dari tim bantuan rekonstruksi Australia yang membangun pompa-pompa air di sekitar tenda-tenda penampungan korban gempa yang tersebar di banyak desa. Namun agaknya mereka tidak bawa apa-apa kecuali sebuah map yang diletakkan Ryan di atas meja. Saya tanya apakah ada pesan yang perlu disampaikan. Si anak Gama membantu menjawab pertanyaan saya, ”Tidak Pak, dia akan datang ke sini lagi setelah tugasnya selesai. Dia ingin ketemu ayah-ibunya.”

Ayah-ibunya? Siapa ayah-ibunya? Di mana? Apakah mereka relawan juga? Atau wisatawan, barangkali? Beberapa pertanyaan tiba-tiba bermunculan di kepala saya. Pertanyaan yang saya karang-karang sendiri lalu saya jawab-jawab sendiri. Dan akhirnya saya cuma menyanggupi menyampaikan keinginannya kepada Mas Pras setelah beliau datang esok harinya.

Ryan sedikit sekali mengerti bahasa Indonesia. Beberapa kalimat singkat yang terucap dari mulutnya memberi kesan dia tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan hanya sepotong-sepotong mengucapkannya. Barangkali dipungut dari mulut anak-anak Gama yang sembarangan saja mengucapkannya. Saya coba bertanya, titipan apa yang ingin dia tinggalkan buat Mas Pras. Jawabnya keluar dari mulut Ambar. Sambil meletakkan mapnya di atas meja, perempuan itu bilang, ”Inilah Pak. Buka saja jika Bapak mau baca isinya. Bagi Ryan bukan rahasia. Semuanya berupa foto kopi. Bukan aslinya.”

Di depan mereka tentu saja saya segan menuruti saran Ambar. Namun, sesudah mereka pergi, saya tak bisa menahan diri. Saya benar-benar membuka mapnya dan membaca beberapa lembar kopi dokumen di dalamnya. Ya Allah, saya tiba-tiba merasa berdosa karena tahu seluruh isinya. Memang bukan surat tertutup, tetapi map ini berisi lembaran-lembaran Din-A4 berupa dokumen pribadi yang tak seharusnya saya ketahui, kecuali atas perkenan Mas Pras.

Si anak muda bernama Rianta, lahir 15 Maret 1966 di Dusun T, sebuah desa di wilayah Bantul, sekarang statusnya kabupaten.

Kecurigaan saya kian memuncak, karena si anak muda itu bernama Rianta. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan itu keliru! Tetapi lampiran kedua ternyata berupa selembar foto kopi sebuah dokumen dengan tanda tangan ibu angkatnya: Nyonya Elvira McLane. Perempuan itu memanggilnya Ryan. Anehnya, pada meterai dokumen itu tampak cap jempol perempuan dengan tinta warna jingga ditandai nama Darmini. Entah apa sebabnya, tapi nama ini mengingatkan saya pada Yu Dar. Perhatian saya lalu tertuju pada sebuah tanda tangan lain di bawahnya, bertitimangsa Muntilan, 23 Desember 1969. Hampir-hampir saya tidak percaya ketika membaca nama lengkapnya: Prasetya Oetama.

Setiap kali merenungi cap jempol Darmini dan tanda tangan Mas Pras itu, kecurigaan saya kian memuncak, jangan-jangan si anak muda itu lahir berkat hubungan gelap antara keduanya, dulu, likuran tahun yang lalu. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan saya itu keliru! Tetapi tanda tangan seorang pastur selaku saksi, lengkap dengan stempel Kotapraja Salatiga, membuat saya tak ragu lagi: kesimpulan itu tidak keliru.

***

Mas Pras memang tak bisa terlalu lama meninggalkan keteringnya. Esok harinya beliau pulang bersama Yu Dar, tetapi tanpa Yu Karsi, karena beliau tak tega meninggalkan cucu yang sedang parah menderita demam berdarah.

”Rianta cari ayah-ibunya ya Dik?”

Saya kaget mendengar pertanyaan Mas Pras. Terasa muka saya merah padam tetapi mulut saya bungkam. Takut dikira sudah baca isi mapnya.

”Ambar bilang apa?” peras Mas Pras.

”Rianta cari ayah-ibunya.”

”Dik, saya sendiri tak tahu siapa ayah-ibunya. Tapi saya juga ayahnya. Anak saya banyak, Dik. Di Muntilan saja puluhan. Saya ikut menampung mereka di gereja. Anak-anak orang tahanan, Dik. Mereka keleleran di jalanan.”

***

Hari ini saya tak ingat lagi kalimat Ryan selengkapnya. Namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya melainkan Ryan sendiri, ”They are my parents.”

Benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi Rianta alias Ryan, percaya Mrs McLane hanya ibu angkatnya. Selebihnya bukan urusan saya.***

Paran, Januari 2010

*) Soeprijadi Tomodihardjo, cerpenis yang tinggal di Jerman

Kado Yamadipati ke Retno Sawitri

25 Apr

[ Minggu, 25 April 2010 ]

Kado Yamadipati ke Retno Sawitri

Sak jelek-jeleknya Batara Narada yang perawakannya gemuk, pendek, dan mekete, masih ada lucu-lucunya. Sekjen Dewata ini orangnya juga kelihatan nggak punya beban apa-apa. Omongannya biasane pakai awalan ngawur: blegenjong-blegenjong pak pak pong pak pak pong… Mahkamah Konstitusi aja mungkin ndak tahu apa itu artinya dan apakah itu masih konstitusional.

Ndak gitu dengan Batara Yamadipati. Sak jelek-jeleknya Batara Petrajaya alias Yamakingkarapati ini, babar blas sudah ndak ada jenaka-jenakanya. Dewa Pencabut Nyawa yang Mabesnya di Neraka Yomani itu sudah wajahnya mirip raksasa, masih ditekuk mendeleppula ke pangkal leher. Mulutnya selalu mengengeh. Seolah ia tertawa tapi tak ada satu pun manusia yang sanggup menyimpulkan bahwa itu tertawa.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.