Archive | Cerpen RSS feed for this section

Malam Rajam

30 May

JELANG dini hari. Di sebuah ranjang berkelambu coklat muda. Kau terlelap tanpa dengkur. Telanjang dada. Bersarung sebatas lutut. Di sampingmu, terbaring sebatang tubuh molek yang hanya dibalut kain lasem sebatas dada, hingga terintip ceruk di antara dua bukit tinju yang ditutupinya. Selingkaran lehernya menyerak tanda merah sebesar ujung jempol, bagai habis dihisap-kecap. Air muka kalian menyemburatkan lelah yang tak biasa. Tengah malam tadi kalian khatamkan sebuah pertarungan yang tertunda sekian lama. Bukan hanya dengan keringat, tapi kalian juga melakoninya dengan hasrat yang mendahaga. Tak ada yang ditetapkan sebagai pamuncak. Kalian sama-sama kuasa. Kalian pula sama-sama kalah. Bakda itu, lelap kalian adalah sebenar lelap. Untuk apalah bermimpi lagi bila angan-angan itu baru saja tertunai?! Tertunai di atas nama pertautan-halal; di atas ranjang yang berseprai anyar; di atas malam yang dipilahku untuk merajam. Membalas dendam!

***

SIANG tadi pesta perkawinanmu digelar dengan mewah. Kau memang seorang istimewa. Anak tunggal pemilik panglong kayu terbesar di kampung. Jadi, adalah mahfum bila perempuan yang baru datang dari kota itu tertawan olehmu. O, jangan-jangan ia yang menawanmu?! Ah, tak penting itu. Perkaranya adalah, aku tak rela kau meminangnya. Tidak!

Memang, kepergianku ke kampung orang tuaku dua pekan silam tanpa sepengetahuanmu dan keluargamu. Tapi, yang membuatku murka adalah sikapmu (juga keluargamu) ketika mengetahui aku raib. Tenang-tenang saja. Ketika itu, mendidihlah darahku. Ingin sekali aku melabrakmu. Bila perlu membuatmu mati-tercekat karena mendapati kedatanganku yang tiba-tiba. Namun, rencana itu kujegal sementara. Aku benar-benar ingin tahu musabab ketakpedulianmu pada diriku, gadis yang kaujanjikan untuk dikawini. O, apakah ketaktahuanmu tentang di mana tepatnya ranah kediamanan orang tuakukah yang membuatmu tak mencariku? Kini, jujur, aku merasa sangat bodoh. Mengapa dulu aku terburu-buru mengambil ketetapan itu. Pergi meninggalkanmu. Berkelana ke kampung ayah-ibu yang justru tak kunjung kuketahui keberadaannya.

*** Continue reading

L a n d o

23 May

KONONmereka ber-ibu buih dan ber-ayah ikan. Itulah mengapa mereka lebih suka hidup di air dan di antara kapal-kapal… Bila mereka menginjakkan kaki di darat, mereka akan sulit berjalan. Langkah mereka terlihat seperti bukan langkah manusia, dan saat mereka berlari, kaki serta tangannya akan bergerak seolah sedang menyibak air di antara gelombang. Rambut mereka licin seperti rumput laut dan kulit mereka kebal seperti kerang. Suara mereka sangat kuat. Mereka biasa teriak. Dan bila mereka berteriak di dalam rumah, seisi kampung konon bisa mendengarnya…
Continue reading

Menari di Padang Prairi

16 May

OKE! Aku menyerah. Teruslah menari seluas padang prairi. Karena kau adalah benih adalah hujan adalah angin dan matahari. Tunas cinta menyembul darimu per detik. Tak ada jemu. Meski telah kubabat rumputan sabanamu, kuluapkan sungai-sungaimu hingga kering dan kutebas pohonan rimba rayamu. Meski telah kututup pintu-pintu dan kukafani sejarahmu. Meski telah kuhapus huruf-huruf yang mengisahkan namamu.

”Salam. Aku datang lagi…!”

”Tak bisakah meninggalkanku sekejap saja?”

”Atas alasan apa? Matahari terus bersinar tak peduli lilin-lilin dinyalakan atau dipadamkan.”

Continue reading

Cerpen – Cerpen Terbaik

10 May

Jawapos sebagai koran terbesar, dan terluas jaringanya,

Setiap hari minggu selalu menampilkan halaman sepesial, yaitu Cerpen dan Wayang Durga. Cerpen Diisi oleh cerpenis-cerpenis ternama, sedang Wayang durga di isi tetap oleh sujiwo tedjo.

silahkan anda nikmati hasil karya-karya beliau, yang sangat mengaduk-aduk perasaan pembacanya.

Anda Ingin langganan Jawa pos? Hubungi Agen koran terdekat..

Suara Serak di Seberang Radio

9 May
[ Minggu, 09 Mei 2010 ]
Suara Serak di Seberang Radio
Menjelang tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur santan dan menyantap sepotong ketela yang matang dalam rebusan air nira belum terasa lengkap bila tanpa menghidupkan radio National dua band yang sengaja ia gantungkan di paku yang tertancap pada tiang pondok itu.

Akan terdengar decak kunyahnya; nikmat seruputan di rahangnya. Aduhai, sembari menunggu gelegak tengguli sempurna menjadi gula merah, Yarman menaruh radio itu di atas lututnya dan mengasyiki tombol pencari gelombang. Sambil duduk menyandar ke dinding bambu, kepalanya menggeleng ritmis.
Continue reading

Sipleg

6 May

[ Minggu, 25 April 2010 ]

Sipleg

LUH SIPLEG nama perempuan tua itu. Perempuan kurus dengan beragam kerut-kerut tajam yang membuat takut orang yang menatapnya. Menurutku, Sipleg perempuan aneh, yang selalu memandang orang dengan mata penuh curiga. Penuh selidik, penuh tanda tanya. Kadang, dia juga seperti perempuan kebanyakan. Serbaingin tahu. Sering juga kulihat dia diam seperti batu kali. Aku menyukai gayanya yang naif itu. Bagiku, Sipleg perempuan dengan buku terbuka. Tak sembarang orang bisa membacanya. Akulah salah satu perempuan yang dibiarkan memasuki masa lalunya dengan santai. Tanpa dia pernah tahu aku telah mendapatkan cerita tentang hidupnya tanpa dipaksa. Aku juga tidak pernah merengek.

Continue reading

Sarpakenaka

6 May

[ Minggu, 18 April 2010 ]

Sarpakenaka

PAK Karyono menatapku dengan tajam. Seperti tengah mengulitiku dengan kejam. Di luar langit mendung seolah mengekalkan pertemuan kami.

”Anak jadi akan membawanya pulang sekarang?” Pertanyaan yang semula sangat kuharapkan itu tiba-tiba terasa lain ketika benar-benar diucapkan. Memaksaku berpikir ulang dengan cepat dan keras. Waktu terus mengalir dengan deras. Menghantamku berulang. Apakah aku benar-benar ingin membawanya pulang. Jika tadi aku bersikeras untuk melihatnya, memaksa orang tua itu untuk memperlihatkan benda yang berbulan-bulan ini kucari dan lantas membawanya pulang, kini aku jadi balik bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku benar-benar menginginkannya. Apa pentingnya. Bukankah aku sudah berhasil mengumpulkan seluruh cerita. Lengkap. Dari hulu ke hilir. Seluruh pertanyaanku sudah menemukan jawabannya. Keberadaan benda itu tak lagi jadi hal terpenting. Buat apa aku membawanya pulang dan menguburkannya di samping makam simbah. Bahkan mungkin simbah pun tak menginginkannya. Tapi seluruh pencarian ini akan berakhir. Harus segera kuakhiri. Entah bagaimana caranya.

Continue reading

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.