Verkooper Kompas

21 Mar

[ Minggu, 21 Maret 2010 ]

Mulanya Nicholas de Travenier datang dari Nederland sebagai penembak artileri dalam pasukan perang. Keahliannya dalam melukis, membuatnya beralih pekerjaan menjadi seniman setelah Gubenur Jenderal yang terpesona pada goresan kuasnya dalam suatu kunjungan ke tangsi, meminta Nicholas dengan hormat untuk menjadi pelukis resmi VOC. Selanjutnya, Nicholas mendapatkan perlakukan istimewa dari sang Gubernur Jenderal yang memiliki kecintaan yang luar biasa pada seni lukis itu. Ia bahkan meminta Nicholas tinggal di Kastil Batavia, kompleks kediamannya, menempati salah satu kamar di lantai bawah.

Sebagian besar goresan Nicholas adalah penggambaran aktivitas penghuni di berbagai sudut Batavia. Selain laporan tertulis, lukisan-lukisan itulah yang akan dikirimkan ke Nederland sebagai pembuktian sang Gubenur Jenderal mengenai keberhasilan upaya pembangunan kota yang telah diprakarsainya di daerah koloni ini.

”Lukisanmu lebih indah dari kenyataan. Aku berharap keindahan itu akan membuat para pembesar di Nederland sana memuja segenap capaian yang telah kutorehkan,” puji Gubernur Jenderal kepada Nicholas.

Sebagai pelukis yang memiliki gaji tetap dan komisi dari setiap karya-karya yang dihasilkan, Nicholas bisa melebur dalam gaya hidup kaum elite di Batavia. Setiap akhir pekan, ia mendapatkan hak istimewa mengikuti pesta dansa di Rumah Bola. Untuknya, disediakan sebuah sado khusus beserta kusirnya yang siap mengantarkan ke mana pun ia berhasrat pergi, kapan pun itu.

Siang ini, ia meminta kusir mengarahkan sado menuju Sunda Kelapa. Ia ditugaskan untuk melukis suasana di sana. Sesampainya di Sunda Kelapa, ia langsung naik ke atas salah satu kapal yang tengah sandar. Setelah mendapat izin dari kapten, ia langsung memulai aktivitasnya. Suasana Sunda Kelapa tengah ramai di siang itu. Tak ada alasan baginya untuk tidak memindahkan pemandangan tersebut ke dalam kanvasnya.

Ia hampir larut utuh dalam kegiatannya jika saja sesosok lelaki di tepi dermaga di bawah sana tak menyita perhatiannya. Lelaki itu berparas rasnya, bertubuh tubuhnya, sedang menatap kosong ke arah laut sambil memanggul sebuah karung yang entah berisi apa. Pastinya, lelaki itu orang Nederland, bertelanjang dada, hanya mengenakan celana hitam selutut, tak mengenakan alas kaki. Tak bisa dimungkiri lagi, ia berpenampilan setara dengan budak belian. Hanya ciri Eropa-nya yang membuat ia terlihat berbeda secara mencolok.

Bagi Nicholas, itu adalah pemandangan yang tak biasa. Tak mungkin seorang lelaki Nederland menjadi budak di tanah jajahan. Meskipun mungkin ada di antara lelaki Nederland yang datang ke Hindia Belanda untuk kemudian tak menjadi orang kaya atau memiliki pekerjaan bagus, tetap saja mereka tidak akan sampai bertampang pengemis seperti lelaki di tepi dermaga itu. Berbagai perkiraan dan sangkaan serupa lesatan anak-anak panah, menyerang benak Nicholas. Sementara itu, si lelaki tampan tetap saja berdiri di tepi dermaga, memandang ke arah cakrawala, tak sedikit pun menghiraukan suasana di sekitarnya.

Rasa ingin tahu mendorong Nicholas untuk segera turun dari kapal dan meninggalkan kanvasnya yang masih terbuka. Sementara itu, aktivitas di pelabuhan Sunda Kelapa makin ramai. Kapal-kapal yang sandar bertambah satu-satu. Dari Aceh, Maluku, ada pula dari Singapura.

Matahari yang berada tepat di tengah langit menjatuhkan panas yang tak tanggung-tanggung. Nicholas menuju ke sebuah warung minum bertenda tipis milik Tjoe An. Sambil duduk memperhatikan lelaki di tepi dermaga, Nicholas menyeruput perlahan limun yang dipesannya.

Kepada pemuda Tionghoa pemilik warung, Nicholas mencoba mengorek pengetahuan mengenai lelaki di tepi dermaga.

”Saya sering melihatnya Meneer, tapi saya tak mengenalnya. Dia sempat mampir di sini tadi pagi. Saya perhatikan, ia seperti orang yang linglung. Sempat juga saya memberinya limun. Sehabis minum, ia kembali di tepi dermaga itu sambil memanggul karungnya. Saya sempat mengajaknya bicara, namun seakan-akan kemampuan berbicara telah tercerabut dari dalam dirinya. Saya tak tahu apakah dia menunggu sesuatu. Jika dibilang menunggu kapal yang bisa membawanya pulang kembali ke Nederland sepertinya tidak juga karena ia tidak pernah menaiki kapal-kapal yang berangkat menuju Nederland. Satu hal lagi yang terus membuat saya bertanya adalah isi karungnya itu.”

”Sebenarnya, dia verkooper kompas, penjual kompas.”

Dari tempat duduk yang tak jauh dari Nicholas, seorang pendeta muda yang juga tengah menikmati limunnya memaksakan diri masuk ke dalam pembicaraan. Ia kemudian mendekat dan berpindah tempat duduk dalam satu meja dengan Nicholas. Ia memperkenalkan diri sebagai Abraham Antonij.

”Anda mengenalnya?” Nicholas makin penasaran.

”Kami sama-sama dari Overijssel. Berangkat dengan sekunar yang sama pula menuju Batavia ini.”

Abaraham menceritakan bahwa ia bersama beberapa pendeta muda –termasuk lelaki yang saat ini berdiri di tepi dermaga itu– ditugaskan oleh gereja ke Hindia Belanda. Bukannya tertarik dengan misi menyebarkan agama, lelaki di tepi dermaga yang bernama Rafael van der Haghen itu justru barapi-api ingin menjadi pedagang sukses di tanah rantau.

Mengetahui pasti bahwa Hindia Belanda terletak di wilayah perairan dan banyak kegiatan pelayaran di sekitarnya, dengan uang saku dari gereja ditambah hutang dari beberapa kawan, Rafael berinisiatif membeli sekitar seribu kompas untuk dijual kembali kepada para pelaut dan nelayan lokal. Dalam pikirannya, tentu kompas akan sangat dibutuhkan di Batavia bahkan Hindia Belanda. Ia yakin, barang seperti kompas akan memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Rencananya, keuntungan dari hasil penjulan kompas itu akan diputarnya lagi untuk usaha baru. Jika nanti keuntungan dari usaha-usahanya sudah terkumpul, ia akan membiayai kekasihnya, Cornelia, untuk menyusul ke Batavia dan mereka akan melangsungkan pernikahan yang meriah di sini dan menetap sambil mengembangkan berbagai usaha. Sungguh sebuah rencana yang sangat menggairahkan.

Setibanya di Batavia, Rafael menginap di sebuah losmen murahan di sekitar Sunda Kelapa. Ia telah benar-benar melepaskan diri dari gereja. Hari-harinya di Batavia ia lalui dengan menawarkan dagangan dengan membuka lapak di sekitar sini. Sampai hari menginjak minggu kedua, tak seorang pun yang mau membeli kompas dagangannya. Berbulan-bulan kemudian, ia akhirnya ditampar kenyataan bahwa tak ada pelaut atau nelayan yang membutuhkan kompas.

Para pelaut dan nelayan di negeri ini masih berlayar secara tradisional dengan mengandalkan pengetahuan turun-temurun dari nenek moyang mereka. Keadaan iklim dan geografi yang khas memungkinkan pelaut-pelaut pribumi mencari baringannya pada pulau-pulau, gunung-gunung, dan tanjung-tanjung jika keluar menyusuri pantai. Pada malam hari, mereka menggunakan bintang-bintang di langit yang cerah sebagai penentu posisinya di tengah laut. Bahkan, ada pula yang bisa menentukan arah di laut dengan hanya mengandalkan intuisi atau berdasarkan bentuk awan dan pantulan sinar matahari, juga berpatokan pada arus, warna, dan jenis air laut. Lebih hebat lagi, dengan hidung, mereka bisa ”mencium” tempat atau posisinya di laut.

Sebenarnya, Rafael van der Haghen bukanlah orang pertama yang mencoba berdagang kompas di sini. Sebelumnya, orang-orang Portugis sudah ada yang berjualan kompas dan tak pernah laku. Meski orang pribumi mengetahui fungsi kompas, mereka tetap saja tak tertarik memakainya dalam pelayaran. Mereka yakin tak akan tersesat di tengah laut sebab laut itulah kehidupan mereka.

”Apa yang terjadi kemudian sampai-sampai lelaki itu menjadi seperti sekarang ini?”

Sang pendeta muda menahan sebentar napasnya untuk kemudian mengembuskannya dengan berat. Sepertinya ia akan mengisi kelanjutan ceritanya dengan sesuatu yang sangat serius.

Ia melanjutkan ceritanya bahwa sesampai mereka di Batavia, ia terlalu sibuk dengan kegiatan kegerejaan hingga ke pelosok-pelosok Batavia, bahkan sampai pula ke pedalaman Borneo. Ia lama tak berjumpa dengan Rafael van der Haghen dan tak mengetahui perkembangan temannya itu di negeri rantau ini. Sampai kemudian, ia bertemu dengan Rafael di dermaga ini, seturunnya dari kapal uap yang membawanya dari Borneo.

”Waktu menyapanya di pelabuhan ini, dia mengabaikan saya. Saya berusaha keras meyakinkan bahwa saya adalah temannya, namun tetap saja dia tak hirau dan seperti yang bisa Anda lihat sekarang ini, dia juga berdiri hampa menghadap cakrawala dengan memanggul karung berisi seribu kompas itu. Dari cerita yang saya dengar, ia menjadi gila setelah mendapat kabar bahwa Cornelia telah menikah di Nederland dengan orang kaya setelah tak sanggup menunggu Rafael lebih lama lagi.”

”Apakah tidak pernah ada upaya memulangkannya ke Nederland?”

”Beberapa kali sudah dilakukan. Namun, ia menolak keras. Bahkan terjadi perkelahian. Lagi pula, seperti saya, dia juga yatim piatu, tak ada sanak keluarga di Nederland. Saya pernah membawanya tinggal di gereja, di kamar saya, namun suatu malam ia mengamuk dan menghancurkan barang-barang di sana dan semenjak malam itulah pihak gereja tak membolehkan saya menampungnya lagi. Sekarang, pelabuhan Sunda Kelapa inilah rumahnya.”

Sambil mengelus-elus janggut lembut di dagunya, Nicholas mengangguk-anggukkan kepala. Ia berpikir, nahas sungguh nasib lelaki di tepi dermaga itu. Setelah mengucap terima kasih kepada pendeta muda yang telah memberinya banyak cerita mengenai lelaki di tepi dermaga, ia kembali ke atas kapal. Ia tanggalkan kanvas sebelumnya yang sudah berisi beberapa goresan kuas. Ia meletakkan sebuah kanvas baru dan mulai melukis lelaki yang tengah berdiri di tepi dermaga itu. Dalam rencana yang ada di kepalanya, ia akan melukis lelaki itu beserta suasana di sekelilingnya. Ia akan membuat dua versi. Dalam versi pertama, lelaki itu ia lukis mengenakan setelan jas lengkap beserta tongkat dan topi tinggi, sedangkan dalam versi kedua lelaki itu akan dilukis sebagaimana tampaknya.

Nicholas sepenuhnya akan memberikan keputusan kepada Gubernur Jenderal, lukisan versi mana yang akan dikirimkan ke Nederland. ***

Tarakan, 21-22 Desember ’09

Oleh: Rama Dira J.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: