RYAN

28 Apr

SAYA tak ingat lagi kalimat dia selengkapnya, namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya, melainkan si anak muda: ”They are my parents.” Sejak itu tiada lagi sesuatu yang perlu saya ragukan.

***

Barangkali sudah lama anak muda itu berada di tepi jalan sana, tetapi saya baru tahu ketika berdiri di balik gorden jendela ruang depan. Di bawah cahaya remang kekuningan lampu jalanan, ia coba membaca tulisan yang agaknya tidak jelas pada selembar kertas, lalu diselipkan dalam saku di balik dada jaketnya.

Demi mencegah tatapan mata para pejalan kaki di malam sesenyap ini, lampu ruang tamu sengaja saya padamkan. Saya sempat mengamati gerak-geriknya dengan rasa curiga ketika tangannya coba menggoyang jeruji pagar besi halaman depan. Tak jelas benar rupa wajahnya, tetapi pasti sosok seorang lelaki.

Saya sendirian saja menjaga rumah Mas Pras ketika beliau pergi mengantar Yu Karsi ke Bantul menengok cucu yang sedang parah menderita demam berdarah. Ya, ada saja bencana yang mengancam daerah ini: banjir besar, tanah longsor, gempa bumi, lahar Merapi…

Belum lagi usai kesibukan mengatasi kerusakan akibat bencana gempa di pedesaan, kini mobil-mobil dinas puskesmas sibuk keluar-masuk perkampungan karena penyakit mulai berjangkit seiring tibanya musim penghujan. Kecemasan menjalar bak penyakit sampar yang mengerikan.

Mas Pras dan Yu Karsi sangat khawatir pada kondisi kesehatan cucunya. Mereka meminta saya tinggal di rumah sendirian beberapa hari saja, menunggu tim relawan Australia yang akan meninggalkan Jogyakarta awal bulan depan. Menurut rencana, mereka akan mengakhiri misi humaniternya di pedesaan, lalu istirahat beberapa hari di Bali sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke negeri mereka. Ini rombongan relawan terakhir dari Negeri Kanguru yang berada di Jawa Tengah sejak gempa. Mas Pras terpaksa menunda pertemuan dengan mereka.

Pada hari yang sama, Yu Dar, pembantu usaha keteringnya, pamit prei beberapa hari untuk menengok keluarganya di desa. Mengangkat kerabat dekat selaku pembantu, acap kali menyulitkan Mas Pras sendiri. Beliau lebih banyak mengalah demi mencegah salah paham di pihak kerabatnya di desa. Hal yang sejak awal telah diperingatkan istrinya. Namun Mas Pras mengizinkan Yu Dar cuti beberapa hari karena urusannya menyangkut bencana yang menimpa keluarganya di desa.

Cuaca sudah gelap dan senyap ketika saya memeriksa semua jendela dan pintu belakang. Dari jendela ruang makan saya lihat Yu Dar ternyata lupa mengentas jemuran sprei dan beberapa sawal bantal. Saya khawatir jangan-jangan si anak muda yang mencurigakan itu menunggu saat yang tepat untuk melompat ke halaman rumah dan menyambar jemuran Yu Dar. Cepat-cepat saya melangkah ke halaman belakang, mengunci pintu garasi, mengentas semua jemuran dan memalang pintu belakang.

Ketika saya balik ke ruang tamu dan mengintip dari sela gorden jendela, nampak si anak muda masih berada di tempatnya, tetapi sekarang asyik berbincang dengan seorang perempuan muda pengendara sepeda. Di bawah cahaya lemah lampu jalanan, saya lihat perempuan itu menuding ke kanan kemudian ke kiri sembari memegangi setang sepedanya, dan tiba-tiba menunjuk ke arah rumah Mas Pras. Saat itu timbul tanda tanya di hati saya, apa pula yang sedang mereka bicarakan tentang rumah ini, tentang Mas Pras dan istrinya, mungkin juga tentang Yu Dar dan kehadiran saya selaku tamu di rumah ini. Namun tiba-tiba perempuan itu menghela sepedanya, meninggalkan si anak muda yang tak juga bergeser dari tempatnya.

Saya merasa agak tenang ketika si anak muda melangkah ke arah yang sama sembari membenamkan kedua tangan dalam saku jaketnya dan menghilang begitu saja. Beberapa saat saya menunggu barangkali mereka muncul kembali. Ternyata tidak. Keduanya lenyap bak siluman takut kesiangan.

Lampu ruang tamu tetap tak saya nyalakan, tetapi televisi saya biarkan menyala dengan suara dikecilkan. Saya tak lagi peduli apakah si anak muda menyelinap di pekarangan rumah. Andai dia berniat jahat dan berhasil melompat masuk halaman, paling banter bisa menyambar ember karatan yang selamanya dibiarkan tersandar di sisi tembok garasi. Namun saya sontak tersentak ketika ponsel di sisi televisi meringkik-ringkik. Itu tentu Mas Pras atau Yu Karsi, pikir saya. Cepat-cepat ponsel saya angkat, tetapi suara di seberang sana ternyata datang dari mulut seorang perempuan yang tak saya kenal.

”Selamat malam, Pak. Betul ya ini rumah Pak Prasetya? Saya perlu bicara dengan beliau.”

”Ya, betul. Tetapi Pak Prasetya sedang berada di luar kota, belum pasti kapan pulangnya. Anda sendiri siapa?”

”Saya Ambar, anak Gama, Pak. Ada urusan mendesak yang perlu saya sampaikan.”

Wuah, anak Gama! Mau apa lagi kalau bukan mengemis derma! Akhir-akhir ini ada saja pelajar dan mahasiswa keliaran siang-malam mendatangi rumah-rumah, mengaku pengerah dana bagi para korban. Kalau mereka datang waktu siang, biar sepuluh ribu rupiah bolehlah. Tapi ini malam hari! Mas Pras sudah lama tidak percaya pada pengumpul dana. Kontan saya nasehatkan, ”Begini ya Mbak, kalau urusan derma, di kota ini Pak Prasetya sendiri salah seorang kordinator sekaligus donatur! Coba pikirkan, apakah beliau harus terus ditodong?”

Apa jawab dia? ”Lho, belum-belum kok Bapak sudah curiga… Saya tidak meminta derma. Saya mengantar seorang relawan. Dari Australi Pak! Dia bawa titipan untuk Pak Prasetya.”

Masya Allah, ternyata saya keburu nafsu menafsir kalimat si anak Gama! Padahal urusannya menyangkut titipan dari luar negeri, dan itu pasti berupa bantuan untuk korban gempa. Saya justru harus menerimanya, bukan menolaknya.

”Halo Pak!” Terdengar lagi suara Ambar karena saya lambat menjawab.

”Ya, teruskan saja ngomongnya. Titipan dari Australi?”

”Ya Pak. Di sebelah saya ini orangnya. Dia perlu menyerahkan titipan. Saya cuma mengantar saja.”

Titipan dari Australi! Ini pasti bantuan dalam jumlah besar berupa apa saja: selimut, bahan pakaian, makanan, obat-obatan, terkadang juga uang dalam bentuk transfer valuta. Tetapi saya bisa berbuat apa jika Mas Pras tak ada di tempat?

”Kalau bermaksud mengantar titipan, silakan saja,” saran saya. ”Kalian tinggal di mana? Tahu enggak alamat rumah Pak Pras?”

”Sejak tadi kami sudah di sini Pak, di luar pagar halaman rumahnya. Bapak sendiri siapa?”

”Saya adiknya!”

Saya bukan adiknya. Hanya karena pertimbangan keamanan, saya tidak mengaku tamu. Namun saya baru sadar, Ambar adalah perempaun muda bersepeda yang dari tadi mondar-mandir bersama si anak muda di luar sana. Tetapi saya mendadak curiga, jangan-jangan mereka pembohong, tukang todong yang berniat menyikat harta benda Mas Pras. Saya mulai merasa curiga pada Yu Dar, jangan-jangan perempuan itu kaki tangan si tukang todong, memberi mereka informasi bahwa rumah ini sedang ditinggalkan pemiliknya.

Kriminalitas memang sangat meningkat ketika kesengsaraan menimpa warga daerah ini sejak terjadi gempa. Manusia ternyata mampu melakukan apa saja demi kelangsungan hidupnya, termasuk menyikat harta benda sesamanya. Bahkan melakukan kekerasan dan pembunuhan, di mana perlu. Saya merasa bertanggung jawab atas keamanan rumah ini. Bodoh sekali jika saya biarkan Ambar masuk ke rumah ini bersama komplotannya. Jadi, saya bilang sebaiknya mereka menunda niatnya sampai Mas Pras pulang.

Cepat-cepat saya letakkan ponsel tanpa menunggu jawaban si anak Gama. Tetapi tak sampai semenit saya menjulurkan kaki di atas sofa, tiba-tiba ponsel yang bawel itu merengek lagi, berkali-kali. Jengkel rasanya meladeninya! Agaknya perempuan itu berkeras kepala mau terus bicara. Cepat-cepat saya angkat kembali ponsel.

”Saya sudah bilang lain kali saja, jangan sekarang! Tunda dulu hingga Pak Prasetya datang!”

Lho Dik, ada apa?”

Saya kaget. Ternyata bukan suara Ambar singgah di telinga saya, tapi suara Mas Pras sendiri!

”O maaf Mas, maaf, saya kira…”

”Sudah tidur Dik? Ngelindur?

”Belum, lagi nongkrong di depan televisi. Barusan ada yang nelepon, bilang mengantar seorang relawan. Dari Australi Mas! Ada titipan untuk Mas Pras.”

”Siapa dia?”

”Ambar. Dia bilang anak Gama. Saya tidak kenal. Malam-malam begini saya tidak meladeni.”

”Ambar, Dik? Dia memang pernah menelepon saya. Kalau menelepon lagi, beritahukan saja esok siang saya sudah pulang dan mereka bisa ketemu saya. Cucu saya masih di rumah sakit. Sudah agak baikan, tapi istri saya belum tega meninggalkannya. Gitu saja ya…”

Cepat-cepat ponsel saya letakkan lagi, lalu lari keluar dengan maksud mengejar Ambar. Mereka memang keras kepala, tak setapak jua beranjak dari sisi pagar besi yang terkunci sejak sore. Akhirnya mereka saya persilahkan masuk.

***

Ryan mengaku relawan dari tim bantuan rekonstruksi Australia yang membangun pompa-pompa air di sekitar tenda-tenda penampungan korban gempa yang tersebar di banyak desa. Namun agaknya mereka tidak bawa apa-apa kecuali sebuah map yang diletakkan Ryan di atas meja. Saya tanya apakah ada pesan yang perlu disampaikan. Si anak Gama membantu menjawab pertanyaan saya, ”Tidak Pak, dia akan datang ke sini lagi setelah tugasnya selesai. Dia ingin ketemu ayah-ibunya.”

Ayah-ibunya? Siapa ayah-ibunya? Di mana? Apakah mereka relawan juga? Atau wisatawan, barangkali? Beberapa pertanyaan tiba-tiba bermunculan di kepala saya. Pertanyaan yang saya karang-karang sendiri lalu saya jawab-jawab sendiri. Dan akhirnya saya cuma menyanggupi menyampaikan keinginannya kepada Mas Pras setelah beliau datang esok harinya.

Ryan sedikit sekali mengerti bahasa Indonesia. Beberapa kalimat singkat yang terucap dari mulutnya memberi kesan dia tidak menguasai bahasa Indonesia dengan baik dan hanya sepotong-sepotong mengucapkannya. Barangkali dipungut dari mulut anak-anak Gama yang sembarangan saja mengucapkannya. Saya coba bertanya, titipan apa yang ingin dia tinggalkan buat Mas Pras. Jawabnya keluar dari mulut Ambar. Sambil meletakkan mapnya di atas meja, perempuan itu bilang, ”Inilah Pak. Buka saja jika Bapak mau baca isinya. Bagi Ryan bukan rahasia. Semuanya berupa foto kopi. Bukan aslinya.”

Di depan mereka tentu saja saya segan menuruti saran Ambar. Namun, sesudah mereka pergi, saya tak bisa menahan diri. Saya benar-benar membuka mapnya dan membaca beberapa lembar kopi dokumen di dalamnya. Ya Allah, saya tiba-tiba merasa berdosa karena tahu seluruh isinya. Memang bukan surat tertutup, tetapi map ini berisi lembaran-lembaran Din-A4 berupa dokumen pribadi yang tak seharusnya saya ketahui, kecuali atas perkenan Mas Pras.

Si anak muda bernama Rianta, lahir 15 Maret 1966 di Dusun T, sebuah desa di wilayah Bantul, sekarang statusnya kabupaten.

Kecurigaan saya kian memuncak, karena si anak muda itu bernama Rianta. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan itu keliru! Tetapi lampiran kedua ternyata berupa selembar foto kopi sebuah dokumen dengan tanda tangan ibu angkatnya: Nyonya Elvira McLane. Perempuan itu memanggilnya Ryan. Anehnya, pada meterai dokumen itu tampak cap jempol perempuan dengan tinta warna jingga ditandai nama Darmini. Entah apa sebabnya, tapi nama ini mengingatkan saya pada Yu Dar. Perhatian saya lalu tertuju pada sebuah tanda tangan lain di bawahnya, bertitimangsa Muntilan, 23 Desember 1969. Hampir-hampir saya tidak percaya ketika membaca nama lengkapnya: Prasetya Oetama.

Setiap kali merenungi cap jempol Darmini dan tanda tangan Mas Pras itu, kecurigaan saya kian memuncak, jangan-jangan si anak muda itu lahir berkat hubungan gelap antara keduanya, dulu, likuran tahun yang lalu. Ya Allah, ampunilah dosa saya jika dugaan saya itu keliru! Tetapi tanda tangan seorang pastur selaku saksi, lengkap dengan stempel Kotapraja Salatiga, membuat saya tak ragu lagi: kesimpulan itu tidak keliru.

***

Mas Pras memang tak bisa terlalu lama meninggalkan keteringnya. Esok harinya beliau pulang bersama Yu Dar, tetapi tanpa Yu Karsi, karena beliau tak tega meninggalkan cucu yang sedang parah menderita demam berdarah.

”Rianta cari ayah-ibunya ya Dik?”

Saya kaget mendengar pertanyaan Mas Pras. Terasa muka saya merah padam tetapi mulut saya bungkam. Takut dikira sudah baca isi mapnya.

”Ambar bilang apa?” peras Mas Pras.

”Rianta cari ayah-ibunya.”

”Dik, saya sendiri tak tahu siapa ayah-ibunya. Tapi saya juga ayahnya. Anak saya banyak, Dik. Di Muntilan saja puluhan. Saya ikut menampung mereka di gereja. Anak-anak orang tahanan, Dik. Mereka keleleran di jalanan.”

***

Hari ini saya tak ingat lagi kalimat Ryan selengkapnya. Namun ketika Ambar menelepon, saya tahu pasti, pengakuan itu bukan orang lain yang mengucapkannya melainkan Ryan sendiri, ”They are my parents.”

Benar atau tidak, saya tidak tahu. Tapi Rianta alias Ryan, percaya Mrs McLane hanya ibu angkatnya. Selebihnya bukan urusan saya.***

Paran, Januari 2010

*) Soeprijadi Tomodihardjo, cerpenis yang tinggal di Jerman

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: