Sarpakenaka

6 May

[ Minggu, 18 April 2010 ]

Sarpakenaka

PAK Karyono menatapku dengan tajam. Seperti tengah mengulitiku dengan kejam. Di luar langit mendung seolah mengekalkan pertemuan kami.

”Anak jadi akan membawanya pulang sekarang?” Pertanyaan yang semula sangat kuharapkan itu tiba-tiba terasa lain ketika benar-benar diucapkan. Memaksaku berpikir ulang dengan cepat dan keras. Waktu terus mengalir dengan deras. Menghantamku berulang. Apakah aku benar-benar ingin membawanya pulang. Jika tadi aku bersikeras untuk melihatnya, memaksa orang tua itu untuk memperlihatkan benda yang berbulan-bulan ini kucari dan lantas membawanya pulang, kini aku jadi balik bertanya pada diriku sendiri. Apakah aku benar-benar menginginkannya. Apa pentingnya. Bukankah aku sudah berhasil mengumpulkan seluruh cerita. Lengkap. Dari hulu ke hilir. Seluruh pertanyaanku sudah menemukan jawabannya. Keberadaan benda itu tak lagi jadi hal terpenting. Buat apa aku membawanya pulang dan menguburkannya di samping makam simbah. Bahkan mungkin simbah pun tak menginginkannya. Tapi seluruh pencarian ini akan berakhir. Harus segera kuakhiri. Entah bagaimana caranya.

”Saya adalah orang keempat yang menyimpannya, Nak. Sebelumnya wayang Sarpakenaka itu disimpan sendiri oleh penciptanya, seorang penatah wayang dan dalang bernama Mbah Jayeng. Setelah Mbah Jayeng meninggal, kira-kira seminggu setelah wayang itu selesai disungging, wayang berpindah tangan ke anaknya, Dalang Sudi. Tapi Dalang Sudi juga tak terlalu lama menyimpannya. Setelah memainkan wayang itu dalam sebuah pertunjukan, Dalang Sudi juga meninggal. Itu kira-kira tahun 67, Nak. Setelah itu wayang disimpan oleh ayah saya. Disimpan dalam kotak dan tak pernah dimainkan lagi. Kami semua percaya bahwa wayang tersebutlah yang mengakibatkan kematian Mbah Jayeng dan Dalang Sudi. Oleh karena itu, bapak saya, kepala desa waktu itu, memutuskan untuk menyimpannya dengan rapat, agar tak terjadi korban lagi.”

”Kenapa tidak dimusnahkan saja, Pak? Dibuang, dilarung atau dibakar?”

”Risikonya terlalu besar, Nak. Kami takut justru korbannya akan semakin banyak. Bapak waktu itu sudah mendatangi banyak orang pintar untuk menemukan jalan keluar. Dan semuanya menyarankan agar bapak menyimpan saja wayang itu. Menempatkannya dalam sebuah kotak. Jangan pernah dikeluarkan lagi. Apalagi dimainkan dalam pagelaran wayang. Sejak saat itu wayang Sarpakenaka tak pernah lagi keluar dari kotaknya.”

”Setelah itu tak ada korban lagi, Pak?”

Pak Karyono tak langsung menjawab. Ia menyalakan rokok kreteknya. Menyeruput wedang tehnya. Lalu kembali terdiam. Menekuni asap rokok yang keluar dari mulutnya.

”Jadi masih jatuh korban lagi ya, Pak?” tanyaku menebak-nebak.

”Tapi bukankah kata Bapak wayang itu tak pernah dikeluarkan lagi dari kotaknya setelah kematian Dalang Sudi.”

”Masih ada lagi, Nak,” kata Pak Karyono dengan berat. ”Wayang celaka itu keluar dari kotaknya. Dan memakan korban lagi.”

”Siapa, Pak?”

”Bapak saya sendiri. Dan Pak Leroy dari Belanda.” Pak Karyono menatapku.

”Leroy Resodiharjo?”

Pak Karyono mengangguk.

”Apakah mereka berdua meninggal setelah membuat foto ini?” Aku segera membuka tasku. Mengambil sebuah amplop. Dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Pak Karyono tampak kaget. Ia dengan cepat mengambil, tepatnya merebut, foto-foto itu dari tanganku.

”Dari mana Anak mendapatkan foto ini?” Matanya memelototi lembar-lembar foto itu.

”Dari Egbert. Anak Pak Leroy.”

Pak Karyono kini ganti memelototiku. Seperti tak percaya dengan keteranganku. Tapi aku yakin dia percaya. Hanya tak tahu bagaimana caranya. Aku merasa buru-buru harus membuka semuanya. Maksudku yang sesungguhnya.

”Saya sebenarnya bukan sedang mengerjakan tugas kuliah, Pak. Saya datang kemari ingin membuktikan keberadaan wayang Sarpakenaka itu. Dan jika wayang tersebut benar-benar ada, saya ingin membawanya pulang.”

”Kenapa Anak ingin membawanya pulang?”

Aku memutuskan untuk berterus terang. ”Karena kulit wayang itu adalah kulit seseorang yang tengah saya cari, Pak.” Pak Karyono tersentak. Foto-foto yang dipegangnya bergetar. Cukup lama ia tak bisa berkata-kata.

”Dari siapa kamu pertama kali mendengar semua ini?”

”Mbah Jito.”

Wajah Pak Karyono memerah.

”Girjito maksudmu?”

”Iya, Pak.”

”Hmm… Bagaimana kabarnya? Apakah ia sehat-sehat saja?”

”Simbah sudah meninggal kira-kira setahun yang lalu, Pak.”

”Oh…” Pak Karyono kembali terdiam.

”Sepulang dari Pulau Buru kesehatan simbah terus menurun, Pak. Ingatannya masih baik meskipun fisiknya sangat lemah. Simbah baru meninggal tahun lalu, 30 tahun setelah kepulangannya.”

”Tentu ia telah banyak bercerita kepadamu.”

”Iya. Tapi tidak tentang Mbah Mulatsih. Ia bercerita sangat sedikit tentangnya. Saya mendapat cerita tentang Mulatsih awalnya justru dari Egbert.” Aku segera bercerita bagaimana pertemuanku dengan Egbert. Aku sama sekali tak mempedulikan wajah Pak Karyono yang makin merah padam demi mendengar nama Mulatsih kuucapkan dengan penuh tekanan.

***

Suatu siang saat aku sedang berselancar mencari foto-foto lama tentang kebudayaan Jawa di internet aku menemukan koleksi foto wayang dari Leroy Resodiharjo, seorang fotografer Belanda turunan Jawa Suriname. Di situs yang dikelola oleh Egbert inilah aku menemukan sosok wayang Sarpakenaka. Leroy sudah meninggal pada tahun 1973. Untuk menghormati ayahnya, juga untuk memajang foto-foto koleksi ayahnya, Egbert membuat blog dengan alamat http://www.leroyresodiharjo.nl. Dari puluhan foto yang terpajang di sana ada dua sosok wayang yang menarik perhatianku. Sangat menarik, karena bukan terbuat dari kulit sapi, kambing atau kerbau seperti lumrahnya wayang kulit. Tapi dari kulit manusia. Aku tak langsung percaya. Aku tak mudah percaya. Wayang itu berbentuk tokoh Arjuna dan Sarpakenaka. Wayang Arjuna menurut Leroy ditemukan di Kampung Ndakan, Kenalan, Magelang, Jawa Tengah. Wayang tersebut merupakan peninggalan dari Kraton Surakarta. Penduduk setempat menyebutnya Wayang Jimat alias wayang pusaka. Arjuna, satria panengah dari Pandawa, dalam foto karya Leroy tampak kusam. Kulitnya tak terang. Berbeda dengan wayang kulit Arjuna pada umumnya.

Sedangkan yang satunya adalah sosok Sarpakenaka. Raksasa perempuan adik Rahwana, raja Alengka dalam kisah Ramayana. Egbert tak menampilkan banyak keterangan di sana. Hanya sebuah lokasi, sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Nama sebuah kota yang demikian lekat di kepalaku. Kota S. Karena penasaran, aku mengirim email kepada Egbert. Siapa tahu Leroy masih menyimpan sejumlah catatan tentang wayang tersebut.

Sehari kemudian Egbert menjawab pertanyaanku. Dan jawabannya sangat menggetarkanku. Dia mengatakan dalam emailnya bahwa ia sengaja tak memberikan keterangan yang cukup perihal foto wayang Sarpakenaka itu karena sebelum meninggal ayahnya memang berpesan demikian. Identitas pemilik kulit wayang tersebut dirahasiakan karena usia wayang yang masih cukup muda. Kemungkinan besar sanak keluarganya masih mencari perempuan tersebut. Aku tak tahu sungguh apa yang menggetarkanku saat membaca email dari Egbert. Sarpakenaka dan kota S. Dua kata kunci itu seperti mengingatkanku atas sesuatu. Seseorang seperti pernah membisikkannya di telingaku, ”Sarpakenaka… Sarpakenaka…”

Dear Egbert,

Jadi wayang tersebut terbuat dari kulit seorang perempuan? Saya tak meminta Anda untuk membuka rahasia yang disimpan oleh ayah Anda. Tapi bolehkah saya sedikit bertanya, apakah perempuan tersebut berasal dari kota S?

***

Di rumah aku mencoba mengejar kata kunci yang lain.

”Mbah, kalau saya bilang Sarpakenaka, apa yang terlintas di kepala Simbah sekarang?”

Meski sedikit aku bisa melihat perubahan di raut mukanya.

”Sarpakenaka, Le? Apakah dulu di sekolah kamu tak pernah mendengar nama itu?” Ia dengan cepat membalik pertanyaan.

”Pernah, Mbah. Kalau tak salah tokoh itu adalah seorang raksasa perempuan adik dari raja Alengka. Dia jatuh cinta pada Lesmana, adik dari Sri Rama. Tapi cintanya ditolak. Dan dia malah dipermalukan oleh Lesmana di tengah hutan Dandaka.”

”Ya. Seperti itu pula yang terlintas dalam kepalaku sekarang.”

”Begitu pula yang terlintas di kepala orang-orang lain yang sedikit banyak mengenal wayang, Mbah.”

”Maksudmu, Le?”

”Bukan jawaban semacam ini yang saya harapkan, Mbah.”

”Lalu jawaban macam apa?”

”Kenapa Simbah sangat menyukai tokoh Sarpakenaka. Waktu saya masih kecil Simbah sering banget bercerita tentang Sarpakenaka sebelum saya tidur. Kenapa, Mbah? Bukankah Sarpakenaka adalah seorang raksesi yang jahat?”

”Karena tak ada tokoh yang benar-benar jahat dan sebaliknya, tak ada yang benar-benar baik.”

”Benar, Mbah.”

”Apakah Sarpakenaka memilih dilahirkan menjadi sosok raseksi yang jahat? Dan sebagai perempuan tak bolehkah ia mengutarakan cintanya?”

Aku mengiyakan. Berharap simbah akan semakin panjang lebar bercerita tentang Sarpakenaka. Mungkin dari sana, meski susah, aku bisa menarik benang merah.

”Bagiku Sarpakenaka hanya korban dari kegagalan orang tuanya dalam membaca perintah Ilahi. Ia juga hanya korban dari pengkhianatan bapak terhadap anaknya. Benar tidak tafsirku? Kamu sudah besar. Mungkin kamu punya tafsir sendiri atas kisah pembacaan Sastrajendra itu.”

”Benar, Mbah. Saya sepakat. Benar Sarpakenaka adalah buah dari kegagalan Wisrawa dan Sukesi dalam membaca Sastrajendra. Jika sanggup menahan nafsu tentu mereka tak akan mengotori malam itu dengan persetubuhan yang tak semestinya terjadi. Benar bahwa Wisrawa telah mengkhianati amanah Danaraja, anaknya sendiri. Ia hanya diminta melamar Sukesi agar mau menjadi menantunya tapi malah mengawininya untuk diri sendiri.”

”Bagus. Pintar.”

”Karena sejak saya kecil Simbah terus mengulang cerita itu.”

”Apakah kamu sudah mendapatkan jawabannya?”

”Belum.”

Simbah bangkit dari kursinya lalu masuk ke dalam kamar.

Lalu pintu ditutup. Dingin.

***

”Dulu mbah putrimu adalah penari wayang orang,” kata simbah tanpa kuduga. Aku sama sekali tak menduga setelah percakapan tentang Sarpakenaka sore itu ia masih akan melanjutkannya lagi. ”Dan tokoh yang paling sering dimainkannya adalah Sarpakenaka.”

Simbah duduk di sebelahku.

”Mbah putrimu adalah seorang penari yang bagus. Tari putra maupun putri ia kuasai dengan sama kuatnya. Ia sering berganti-ganti peran dengan mudah dalam kelompok kami waktu itu. Kelompok Wayang Among Tani.”

”Simbah juga ikut?”

”Iya. Bukan sebagai penari tapi. Simbah adalah tukang kenong. Penabuh kenong.”

”O ya ya. Terus, Mbah?”

”Sebagai penari mbah putrimu memiliki banyak penggemar. Meski tidak cantik tetap saja banyak lelaki yang gandrung dengan mbahmu. Gandrung dengan tariannya.”

Ia menyorongkan selembar foto kepadaku. Foto hitam putih yang sudah berubah menjadi coklat karena usia.

”Lihat. Kamu belum pernah melihatnya kan? Ini satu-satunya foto yang tersisa dan sempat simbah bawa dalam tahanan. Yang lain sudah terbakar bersama rumah kita waktu itu.”

”Iya. Ibu juga pernah cerita tentang kejadian itu.”

”Sejak malam itu aku dan mbah putrimu tak pernah bertemu lagi sampai kini. Dalam tahanan di Ambarawa aku sempat mendengar kabar tentang mbahmu. Juga ibumu. Mereka mengungsi ke rumah orang tuaku. Beberapa kilometer dari rumah kita. Tapi hanya berapa hari kemudian rumah itu juga dibakar. Mbahmu ditangkap. Karena dianggap Gerwani. Sedang ibumu dibawa mengungsi ke Jogja. Ada kabar pula bahwa mbahmu tidak ditangkap. Tapi mati dihakimi massa.”

”Iya, Mbah. Ibu dan simbah katanya juga pernah mencari ke Bulu dan Plantungan. Tapi tak ada nama simbah putri di sana.”

”Mungkin memang benar bahwa mbahmu memang tak pernah sampai ke tahanan. Tapi dihabisi orang-orang itu. Sepulang dari Buru aku juga berusaha mencarinya. Kembali ke Beringin. Orang-orang di sana, teman-temanku dulu, bilang bahwa mbah putrimu dibawa ke dalam truk. Dan tak ada yang tahu truk itu menuju ke mana.”

***

”Mulatsih ada dalam rombongan yang kami bawa. Saya tidak tahu siapa yang memasukkannya dalam rombongan itu. Malam itu ada 11 orang yang kami bawa. Saya, bapak, dan Dalang Sudi bersama beberapa tentara mengawal para tahanan itu. Saya mulanya mengira truk itu akan mengarah ke Ambarawa dan memasukkan mereka ke penjara di sana. Tapi ternyata tidak. Di dekat Kalijambe di tepi hutan karet kami keluarkan mereka. Sudah tengah malam waktu itu. Dalam keadaan tubuh terikat mereka ditembak satu per satu. Lalu tubuh mereka kami lempar ke bawah. Ke dalam kegelapan hutan karet. Kami yang bertugas melemparkan mayat-mayat itu. Tiba pada giliran mayat Mulatsih, Dalang Sudi memintaku tidak langsung melemparkannya. Ia ingin menguliti penari wayang orang itu. Lalu membawa pulang kulitnya. Sarpakenaka akan tetap jadi Sarpakenaka, katanya sambil tersenyum.”

Dengan lemah Pak Karyono beranjak dari kursinya. Ia masuk ke dalam kamarnya. Keluar lagi membawa sebuat kotak kayu.

”Anak jadi akan membawanya pulang sekarang?” ***

Jogjakarta, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: