L a n d o

23 May

KONONmereka ber-ibu buih dan ber-ayah ikan. Itulah mengapa mereka lebih suka hidup di air dan di antara kapal-kapal… Bila mereka menginjakkan kaki di darat, mereka akan sulit berjalan. Langkah mereka terlihat seperti bukan langkah manusia, dan saat mereka berlari, kaki serta tangannya akan bergerak seolah sedang menyibak air di antara gelombang. Rambut mereka licin seperti rumput laut dan kulit mereka kebal seperti kerang. Suara mereka sangat kuat. Mereka biasa teriak. Dan bila mereka berteriak di dalam rumah, seisi kampung konon bisa mendengarnya…

”Ikan apa yang teriakannya paling kuat?” tanya Latip dengan antusias. Aku tahu, di antara kami bertiga, dialah yang paling terobsesi dengan riset ini.

Lelaki lanjut usia yang memiliki mata dengan pandangan keras namun selalu menatap dengan penuh kelembutan yang duduk di pinggir Leppa berhimpitan dengan kami itu, kembali meraupkan tangannya ke wajah seperti ketika seseorang telah selesai berdoa. Aku memperhatikan kebiasaan lelaki itu, sejak pertama kali melihatnya. Ada sebentuk ekspresi khidmat dalam sikap tersebut. Seperti sikap seorang pendeta yang sedang menyembunyikan sesuatu dari Tuhan. Ber-rahasia tapi begitu terbuka dan pasrah.

”Ikan-ikan tak ada yang berteriak,” demikian Krit Tobuan menjawab singkat.

Krit Tobuan adalah Sandro yang kami temui berdasarkan rekomendasi seorang rekan etnolog yang berdomisili di Jogjakarta. Sandro adalah serupa dukun dalam kepercayaan Orang Bajo. Namun Krit Tobuan lebih seorang Sandro yang dianggap sebagai tabib atau yang dengan kekuatan gaibnya bisa menyembuhkan orang dari gangguan setan, daripada seorang Dangkoka.

Sandro tidak bisa dirasuki setan, tapi Dangkoka atau yang biasa disebut juga dalam bahasa setempat dengan Duata, bisa melakukannya. Dangkoka atau Duata bahkan bisa memanggil setan atau roh dan bisa menjadi perantara manusia dengan setan dan para arwah.

Menurut Krit Tobuan, jumlah makhluk halus dan setan di laut, sama banyaknya dengan jumlah makhluk halus dan setan di darat. Setan-setan jahat di laut itulah yang sering membuat guiopguiop atau perahu-perahu nelayan terbalik. Mereka juga yang kerap membikin para nelayan tersesat meski para nelayan tersebut telah sangat hafal dengan rute yang biasa dilaluinya. Itulah sebabnya sebelum pergi melaut, Orang-orang Bajo kerap melakukan upacara pemberian sajen.

Untuk menghindari bahaya dalam pelayaran, biasanya Krit Tobuan menyiapkan air sakti yang diminum para masanai atau awak kapal sebelum berangkat, demikian bocoran rekan etnolog kami tentang kehebatan Sandro yang berusia hampir seratus tahun itu.

”Ikan tak takut pada Pudi atau setan laut dan setan bumi. Mereka hanya patuh pada Dewa Aroa. Bila Dewa Aroa sedang senang dan berbaik hati, ia akan dengan gembira mengutus ikan-ikan besar untuk datang mendekat guiop dan menyuruh mereka berloncatan ke haribaan jala yang ditebar para pelaut. Bukan nelayan yang mencari makan, tapi laut yang memberi hidup,” ucap dukun sepuh itu seolah hendak mengingatkan kami kembali akan hubungan yang telah terjalin begitu lama dan dinamis antara laut dan Orang-orang Bajo. Dari bibirnya yang telah menjadi merah, Krit Tobuan melepehkan ludah kental yang berasal dari tembakau bugis dan sirih pinang yang dikunyahnya. Mungkin baginya, selain muara kehidupan, laut juga adalah tempolong besar yang bisa menadah apa saja yang dimuntahkan.

”Mudah sekali bagi kita-kita orang bila ingin menarik perhatian sang dewa. Berteriaklah mengatasi suara ombak, maka dengan riang sang Aroa akan menghadiahi kami para orang laut ini dengan bergelombang-gelombang ikan. Tentu saja untuk memerangkap ikan-ikan itu, kita harus juga bicara, kan? Para masanai dengan tonaas harus saling berteriak. Supaya saling bisa mendengar, kita punya teriakan harus lebih kencang dari ombak laut dan gemuruh gelombang.” Dengan suaranya yang tinggi dan tanpa getar, Krit Tobuan menerangkan tentang muasal kebiasaan Orang-orang Bajo yang senantiasa berbicara atau bercakap dengan nada kencang dan suara yang mengatasi gelombang.

Kulihat Latip dengan tekun menulis apa yang dituturkan sang dukun. Suara coretan pena di atas kertas yang digoresnya dengan kasar dan terburu, tertutup oleh suara air berkecipak dekat badan kami yang setengahnya seolah membenam dalam Leppa. Kecipak volume air menghantam rumah perahu kayu yang mengingatkanku pada suatu masa. Suatu waktu saat aku masih bersama dia…

***

Kami pernah juga terayun-ayun di air sambil duduk dalam Leppa. Bukan tepat seperti rumah perahu Leppa milik Orang Bajo, tapi kurang lebih rumah sampan dengan bentuk yang agak-agak mirip. Usiaku sebelas tahun dan Lando, kakak lelakiku yang berkaki cacat sangat antusias dengan liburan kali itu. Dalam ingatanku, peristiwa tersebut selalu kabur tapi sekaligus juga tampak sangat nyata.

Kami lahir dan besar di Jakarta, tapi ibu kerap bercerita tentang tanah kelahiran nenek moyangnya. Tanah kelahiran yang katanya bukan di atas tanah, melainkan terjalin di atas air. Tidak seperti kebiasaan orang di daratan, para dukun beranak di tempat asal nenek moyang ibu dilahirkan, selalu membuang ari-ari bayi ke laut. Bukan membuang sih sebenarnya, tapi lebih ke sebuah tindakan sadar yang dilakukan secara turun-temurun. Serupa dengan tabiat manusia darat yang mengubur ari-ari ke dalam tanah dan meminta perlindungan dari tanah tempat mereka hidup dan mereka pijak, nenek moyang ibu pun melakukan hal yang sama. Kepada laut, mereka menyerahkan nasib dan hidup para kanak generasi masa depan mereka, meminta laut untuk melindunginya.

Ibu adalah perempuan dengan tipe klise. Mencintai ayah, menyayangi kami, bekerja sebagai ibu rumah tangga, dan setiap malam selalu mengantar kami menuju mimpi dengan cerita-ceritanya yang memukau. Kisah yang diceritakannya bukan dongeng, tidak juga dia gali dan ia karang dari cerita-cerita fantasi. Cerita ibu lebih sering ke pengantar dasar pengenalan tentang tanah kelahirannya. Ketika telah dewasa, aku berpikir agaknya ibu khawatir kami tidak lagi mengenal khasanah dari tempat ia berasal. Ibu mau, meski kami lahir di kota besar, kami harus tetap ingat kota atau tanah di mana darah ia dan ayah, mengalir pada awalnya.

Ada satu cerita ibu yang sejak kecil sampai saat aku dewasa rasanya masih selalu penuh sensasi bila mengingatnya. Cerita tentang para manusia ikan yang bisa berenang dan bermain leluasa dengan para makhluk laut. Mereka tidak bersirip dan berinsang tapi memiliki tombak-tombak tajam yang bisa membuat mereka mempertahankan diri dari ikan ganas dan makhluk-makhluk laut yang membahayakan. Meski memukau, tapi cerita itu bagiku rasanya tak senyata seperti cerita ibu tentang para Dio.

Mereka inilah makhluk dengan massa lonjong dan berwarna abu-abu terang. Mereka menyusui, memiliki payudara, bermoncong gepeng, dan bergigi mungil serta matanya konon seperti manusia. Kita bisa melihat sinar kehidupan bersemayam di baliknya. Bila mereka menangis, para nelayan akan berebut menyorongkan kapas untuk menyerap air matanya. Air mata ikan Duyung atau ikan Dio ini akan diperam di dalam botol dan siapa saja yang memiliki setetes saja dari air mata itu, maka keberuntungan akan mengikutinya. Air mata Duyung juga bisa dijadikan jimat untuk kesuksesan dalam urusan perdagangan, penangkapan ikan, dan merayu kekasih idaman.

Menurut cerita yang didengar ibu dari sejak ia kanak, ikan Dio atau ikan Duyung yang memiliki bahasa latin Dugongdugon ini dulunya adalah nenek moyangnya nenek moyang ibu. Konon seorang perempuan yang selalu dilukai suaminya, dikisahkan suatu hari pergi ke tepi sungai. Kepada tiga anaknya, perempuan itu meminta untuk jangan mencarinya. Namun bila nanti warga menemukan seekor ikan yang bentuknya menyerupai manusia, ketiga anak tersebut harus meminta sebagian isi perut dari ikan itu. Ketika apa yang diramalkan ibunya yang menghilang begitu saja, terjadi, ketiga kanak itu memohon untuk diberi bagian isi perut dari ikan yang ditangkap para warga di tepi sungai. Dalam potongan isi perut sang ikan, mereka menemukan semua permata milik ibunya. Dari sana tahulah ketiganya kalau ikan tersebut adalah memang ibu mereka yang hilang dan amat mereka sayang. Kisah sedih yang amat memukau, bukan?

Kami selalu menyukai kisah-kisah sedih di antara kisah-kisah riang yang ibu ceritakan. Itulah mengapa ketika ibu mengajak kami berlibur ke desanya yang berada dekat Pulau Nain di utara Manado sewaktu kami kanak dulu, dengan antusias aku dan Lando menyambutnya. Dalam kepala kanak kami, kami akan pergi ke sana dengan sebuah misi. Aku dan Lando mau menghibur ketiga kanak yang kehilangan ibu tersebut, bersama mereka mencari cangkang kerang di tepi pantai dan bila telah bosan, kami akan bertemu ibu mereka, berenang dengan sang duyung, lantas bersama, memburu ubur-ubur.

Dengan semangat, Lando mendesak Pa Magalaeng, sang nelayan pengayuh sampan, untuk terus mengarahkan perahu ke tengah laut. Cuaca baik saja, waktu itu. Kicau camar menjadi latar belakang dan ikan-ikan kecil yang cantik berkeriyap di antara hempasan ombak. Tanpa kaca, kami bisa melihat nuansa bawah laut sampai ke dalam ceruk-ceruknya. Di satu ruas laut yang sudah agak ke tengah, kami pun spontan berteriak. Akhirnya kami melihat mereka! Bukan para duyung tapi ikan-ikan terbang!

Jika saja ikan-ikan itu tidak meluncur kembali ke dalam air, kami akan mengira kalau mereka itu burung.

”Lompatannya bisa sampai tiga puluh senti dan jangkauannya bisa mencapai sejauh lima puluh meter,” begitu Pa Magalaeng menerangkan sambil menyeringai melihat betapa kanak darat seperti kami tampak begitu girang saat mengarungi lautan. Tapi pasti bukan karena si Pa menyaruk sampan panjangnya tanpa sajen sebelum berlayar, dan pasti bukan pula karena ulah setan pokpok yang bergentayangan mondar-mandir di laut dan tak senang mendengar teriakan-teriakan anak darat, yang membuat makhluk buas itu benar-benar datang menyambar sampan. Ujung jariku tertusuk kulit kerang dan tanpa bilang-bilang kubersihkan darah yang mengalir pelan itu di permukaan laut.

Lalu tiga puluh menit kemudian…

Lando menjerit!

Tangan mungilnya yang turut mengayuh gelombang pura-pura membantu Pa Magalaeng dengan riang, tertarik ke dalam arus! Sesuatu yang buas di balik lapisan gelombang tenang, diam-diam telah lama melakukan pengincaran. Moncong-moncong hiu itu muncul di antara air laut yang tiba-tiba menjadi begitu merah. Hentakan-hentakan ekor dan sirip monster bergigi gergaji itu memukul-mukul sampan dengan keras seolah hendak memuntahkan kami darinya.

Lando menjerit panik dan bergerak-gerak begitu cepat. Perahu kami rasanya benar-benar akan terbalik. Pa Magalaeng berusaha menarik kencang tangan kanan Lando dan meraup tubuh kakak lelakiku satu-satunya itu. Tapi hiu-hiu tersebut pasti telah kerasukan darah, dayung yang tak henti dipukul-pukulkan Pa Magalaeng ke kepala mereka, sama sekali tak berguna. Gumpalan daging dari lengan Lando yang terburai terhambur bersamaan dengan semburan darah dari tangan kirinya.

Lando tidak bulat-bulat menjadi makanan hiu, tapi kakak lelakiku itu meninggal karena kehabisan darah. Ia meninggal di perahu dalam perjalanan menuju daratan.

Tiga tahun setelah kecelakaan mobil yang melahap kaki kanannya, dalam usia lima belas, Lando kehilangan nyawa sekaligus tangan kirinya. Laut telah mengambilnya.

Sisa liburanku jadi sunyi dan tak berarti lagi. Ayah menenggelamkan diri dalam kesedihan, ibu tak pernah mengungkit apa-apa lagi tentang peristiwa tersebut, dan jauh di dalam hati, aku menyalahkan diriku sendiri.

***

”Dan kau tahu Lando?”

Aku masih ingat, sesaat setelah kami naik dari Leppa ke atas rumahnya, Krit Tobuan mengatakan hal itu begitu saja. Aku berdesir. Setelah hampir dua puluh tahun nama tersebut tak terdengar di telingaku, di tempat yang tak jauh dari peristiwa ketika Lando kecil diambil laut, seorang dukun dari suku Bajo yang bermukin di Desa Torosiaje sebelah timur Gorontalo, mengucapkan kembali nama itu. Lando.

”Tak ada yang diambil laut!” ucap sang Sandro seolah tahu peristiwa yang terjadi di masa laluku.

”Badai dan angin topan, sang Lando, sama sekali bukan musuh kami. Dia pun datang dari gulungan-gulungan itu.” Mata Krit Tobuan menatap ke arah ombak yang bergelora di samudera sana. ”Mereka hanya tamu yang sebentar mampir lewat, membuat segalanya kacau balau, tapi kemudian muncul tatanan baru setelah dia pergi,” tuturnya menambahkan.

Aku terperangah. ”Topan? Lando?” tanyaku seolah tak sadar.

Krit Tobuan mengangguk. Dalam bahasa Orang Bajo, Lando artinya memang itu: badai topan. Begitu ia menerangkan. Sesuatu yang berkaitan dengan angin atau gempuran udara dan cuaca buruk yang tiba-tiba. ”Kau punya pengalaman dengannya?” tanya sang Sandro dengan pandangan mata yang penuh keingintahuan.

Dan betapa aku hendak mengangguk, meski yang kulakukan ternyata hanya gelengan.

Tentu saja aku memiliki pengalaman dengan Lando. Yang manis dan yang getir. Yang membuatku menyalahkan diri sendiri tapi kemudian berusaha terbebas dan memilih untuk berteman dengan lautan daripada memusuhinya. Yang membuatku mengambil semua pilihan-pilihan ini. Etnolog yang mengkhususkan diri pada penelitian tentang suku-suku di perairan. Namun tentang Lando yang badai?

Pastinya baik Latip, researcher junior yang turut dalam penelitian, maupun Leonard, partner risetku, bahkan juga Krit Tobuan, sang dukun sumber kami yang keberadaannya tinggal beberapa orang saja, pastinya tak pernah tahu apa yang kulihat di laut sana saat Lando yang benar-benar badai akhirnya sungguh-sungguh datang dan bisa kami saksikan.

Angin yang menerbangkan rumbia di atap-atap rumah air Orang Bajo, pusaran yang merambat jadi sebuah gelombang, tiupan yang memorondakan dan mendesak-desak pancang kapal. Inikah yang disebut Krit Tobuan dengan percakapan antara budaya suku pengembara laut dengan alam semesta untuk menyeimbangkan kehidupan?

Ya, ya. Latip dan Leonard pasti akan mencatatnya demikian. Setidaknya salah satu di antara mereka. Tapi bagiku, semua kini rasanya terang. Dalam hal ini aku melepaskan diriku yang seorang etnolog dan cukup menjadi seorang Sarita saja. Sarita, seorang adik yang kini paham bahwa meski Lando telah dikuburkan di daratan, tapi sebagaimana kisah yang kerap diceritakan ibu dan sangat kami sukai sewaktu kecil dulu, jiwa Lando tetap bersemayam bersama laut. Bersama badai-badai dan topannya yang datang sebentar, membawa amuk, tapi lantas menciptakan keteraturan.

Ya, aku melihat Lando dalam amukan itu, di sana. Dan tentu, Latip, Leonard, dan Krit Tobuan, juga melihat Lando di sana. Lando yang tak sama tapi cukup serupa dengan Lando-ku. Lando kami.***

*) Ucu Agustin , cerpenis, sineas muda, tinggal di Jakarta

%d bloggers like this: