Jejak Ditam

6 Jun

INILAH malam yang sangat runcing bagi Ditam. Menusuk hulu jantung menembus sukma. Mengalirkan darah dan resah. Malam juga mendenging bersama suara jangkrik. Ditingkahi dengkur suaminya yang sedang lelap tanpa mimpi. Dalam remang kamar, ia melihat wajah laki-laki itu sangatlah lelah. Maklum setelah seharian tadi bekerja sebagai kuli bangunan.

Bulan disimpan awan. Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Ditam berusaha berdiri di keremangan kamar. Betapa yakin hatinya, laki-laki itu takkan terjaga.

”Kini saatnya.” Tak ada sedikit pun suara yang keluar dari mulutnya.

Perempuan itu bangkit dan melangkah pelan. Hatinya menahan tubuh yang sedikit gemetaran. Tapi niatnya sudah begitu runcing.

***

Badul heran. Ia bangun dengan peluh bercucuran. Begitu lelap ia tertidur hingga tak ada mimpi menghiasi tidurnya. Matahari telah meninggi. Cahayanya mengintip lewat ventilasi, memanaskan kamar tempat ia menganyam malam. Pintu jendela masih tertutup rapat. Ini tak biasa.

Kenapa Ditam tak membangunkannya? Ditam selalu membuka jendela saat subuh tiba. Ini salah satu kebiasaan yang sangat hapal bagi Badul. Sebab, ia akan merasakan udara subuh menyapa tubuh. Dingin. Biasanya, Badul segera bangun dan memeluk Ditam dari belakang. Tapi hari ini tidak. Ke mana perempuan itu? Hatinya bertanya-tanya.

***

Ditam terlihat kusut setelah puluhan jam dalam bus kelas ekonomi. Bus telah tiba di terminal sebuah kota. Hiruk pikuk kondektur terdengar mengatur penumpang yang turun dan mengambil barang. Penjaja makanan membangunkan tidurnya, menawarkan beragam barang. Sungguh, ia tak begitu lelap tidur. Sebab, setiap jalan yang berkelok, tubuhnya akan dibawa miring. Ia tak terjaga bila begitu.

Orang-orang turun dari bus. Sambil menjinjing tas satu-satunya yang ia bawa dari dusun malam itu, Ditam juga beranjak dari tempat duduknya menuju pintu.

”Sabar sayang. Aku akan datang.” Seutas senyum dari bibirnya melayang.

Ia berjalan keluar terminal. Mencari angkot menuju sebuah rumah yang ia sangat mengerti di mana tempatnya. Di situ, seseorang telah menunggu.

***

Seisi dusun buncah. Ditam pergi malam meninggalkan Badul. Seribu tanya dari orang kampung membuat malu hatinya. Jangankan dapat menjawab pertanyaan orang-orang kampung, pertanyaan sendiri saja tak dapat ia jawab. Apa yang telah terjadi atas rumah tangganya? Badul sedikit bingung untuk menjawab. Sebab, tak ada masalah sama sekali antara dirinya dengan Ditam.

”Pergilah jemput dia, pasti dia pergi ke kota tempat ia bekerja dulu.” Mertua perempuan turun tangan. Rasa iba emak merayap di tubuh Badul. Emak, demikian Badul dan Ditam biasa memanggil perempuan dengan rambut yang telah memutih itu.

Maka, berangkatlah Badul ke kota yang belum pernah ia datangi. Berbekal beberapa nomor kontak telepon, handphone, dan alamat di secarik kertas. Sembari berharap, semoga benar, ke sanalah Ditam pergi.

Di perjalanan, ia mabuk darat. Bukan main ia malu dengan penumpang lain. Sembari mohon maaf, ia muntah sejadi-jadinya. Ini perjalanan jauh yang baru pertama kali dilakukannya.

Ditam teman kecil Badul. Mereka sekelas waktu sekolah dasar. Setelah tamat, mereka tidak pernah bertemu lagi. Dusun Ditam agak jauh dari dusun Badul. Mereka berbeda sekolah lanjutan pertama dan atas. Tak banyak waktu bertemu dan belum ada rasa sayang lahir di antara mereka berdua.

Setamat sekolah lanjutan tingkat atas, Ditam pergi merantau. Menjadi tenaga kerja di berbagai kota. Ia memang terampil dan pekerja keras. Beberapa kota pernah disinggahinya. Mulai Jambi, Pekanbaru, Batam, bahkan pernah menyeberang ke Malaysia. Terakhir, sebelum jatuh sakit, Ditam bekerja di Jakarta, Surabaya, dan Semarang. Bekerja di sebuah pabrik rokok terkenal di bagian marketing. Pengalaman itu membuatnya berbeda di dusun. Punya perhiasan emas di jari, lengan, leher, dan betis. Menjadi kebanggaan keluarga, walau terlambat menikah. Penampilannya berbeda dari umumnya gadis dusun yang sebaya. Perempuan sebayanya telah punya anak. Ia menjadi tertua di antara perempuan-perempuan yang belum bersuami.

Sampai suatu hari, Ditam bertemu Badul dalam sebuah perjamuan pesta pernikahan. Keduanya dijodoh-jodohkan para gadis remaja. Demikianlah akhirnya Badul berani bertandang ke rumah Ditam. Dan merasakan getar-getar yang telah mengganggu tidurnya. Semula agak canggung bagi Badul, tapi seterusnya ia berani menyatakan untuk hidup semati dengan Ditam.

Ditam perempuan berumur di atas dua puluh lima tahun. Sudah dianggap tua di dusun itu. Pun begitu dengan Badul. Perjaka yang dikenal alim dan pekerja keras. Keduanya beda pengalaman. Badul tak menamatkan sekolah tingkat atas, tak ada biaya. Biasanya, laki-laki di kampungnya menamatkan sekolah hingga tingkat menengah. Itu pun tak banyak. Selebihnya tamat sekolah dasar, langsung mencari pekerjaan. Apa saja, yang penting bisa mendapatkan uang. Begitulah Badul, akhirnya menjadi pekerja kuli bangunan. Ia paham sekali bagaimana membangun rumah. Pengalaman telah mengajarkannya.

Bus telah sampai ke tujuan. Badul turun bersama penumpang lain. Ia mulai bertanya, ke mana alamat yang hendak dicari?

”Naik angkot putih. Turun di pasar, setelah itu naik angkot merah, turun di penghabisan tujuan. Naik ojek, sebutkan alamat. Semoga sampai,” kata laki-laki itu entah siapa. Bagi Badul, ini sebuah pertolongan yang berarti.

Setelah membayar lontong yang ia makan di sebuah kedai kecil sudut terminal, mulailah ia mengembara di sebuah kota yang belum ia kenal. Mencari Ditam, membawanya pulang.

***

Mereka berpelukan. Melepas kerinduan. Pelukan mereka sangat mesra. Tiga tahun lebih tak bertemu, segenap rasa itu seperti ingin dituntaskan saja. Tapi dering handphone membuka pelukan itu.

”Hei. Hari ini kita libur kerja. Kerusuhan di Batam membuat kantor cabang kita tutup. Para bos kita telah menyeberang ke Singapura, sore kemarin,” suara telepon tak terdengar oleh Ditam.

”Mantaplah itu. Bisa kita libur hari ini. Terima kasih infonya. Aku di rumah saja, ada tamu dari kampung.” Saluran handphone terhenti. Wajah penerima telepon itu sangat semringah. Percakapan tadi memastikan ia bisa melepas segenap rindu yang telah lama beku hari ini. Hingga tanpa batas waktu yang belum ditentukan.

Mereka masih di ruang tamu. Kembali berpelukan hangat. Angin sepoi-sepoi menghantar siang yang ranum lewat jendela. Sebuah rumah masih baru ditempati sangat asri. Lengang. Mereka masuk ke kamar dan menutup pintu. Angin masih menerpa bunga-bunga di halaman.

***

Lima hari berlalu di kota yang baru dikenalnya, Badul merogoh kantong celana panjangnya yang telah lusuh. Hanya tersisa beberapa ratus ribu saja dari satu juta yang dibawanya dari dusun. Telah habis. Untuk ongkos bus, angkot, makan, telepon umum, sewa kamar hotel kelas melati. Tapi perjalanannya belum memperlihatkan hasil. Uang yang susah payah dikumpulkan selama ini, bisa habis dalam beberapa hari saja. Badul tak habis pikir.

Kini tujuannya makin tak pasti. Ia berjalan menelusuri lorong-lorong sebuah kompleks. Melihat seluruh perempuan yang ada di hadapannya. Telah ia tanamkan ke dalam benaknya, ciri-ciri tubuh perempuan yang pernah ia peluk dengan utuh itu. Sesekali ia memandang foto yang ia bawa. Belum putus asa, tapi ia sudah terlihat kumal.

Kepada siapa pun ia bercerita tentang Ditam. Di tempat membeli lontong ketika pagi hari, kedai makan ketika makan siang, di terminal, membeli rokok, ia beberkan seluruh cerita tentang Ditam. Ia perlihatkan foto kepada orang-orang yang memiliki wajah ikhlas mau menolong. Tapi semua nihil.

”Tidak kenal saya. Saya pernah kerja di situ, tapi sebentar. Itu pun sebagai satpam pada malam hari. Ada ribuan karyawan di perusahaan elektronik bagian packing. Tak bisa kenal satu per satu, Pak,” kata lelaki yang baru dikenal Ditam itu seperti ingin sekali menolong, tapi ia tak tahu caranya.

”Memang baju perusahaan itu yang ia pakai dalam foto. Tapi kalau sudah keluar, ya tak mungkin masuk lagi. Apa pernah tanya ke perusahaan, kalau-kalau ia datang lagi?” Seorang perempuan di sebuah kedai berkomentar tanpa banyak membantu.

Badul tampak kuyu. Berlalu sambil mengucapkan terima kasih. Logat kampung halaman masih terdengar kental. Kini ia berjalan di pinggir pagar kawat tinggi sebuah pelabuhan. Ia memasuki lorong tanpa ada nama tertera. Lelah dan haus seperti ingin ia dustai. Rasa cintanya telah melumat hal-hal demikian. Ia tak mau pulang membawa hampa.

Terbesit dalam benaknya, apa benar Ditam di kota ini? Bukankah banyak kota telah disinggahi Ditam?

***

”Ya. Masih di Pekanbaru. Ada apa?”

”Apakah Ditam ke tempatmu? Ada yang mencari dari kampungnya.”

”Kami sudah putus. Sejak Ditam menikah, sekitar tiga tahun lalu.”

”Dari siapa?” Ditam bertanya. Wajahnya mengernyit ingin tahu.

”Tenang Sayang. Dari teman tempat kita bekerja dulu.”

”Tahu siapa yang mencariku?”

”Tak perlu ditanya. Bukankah kita tak perlu tahu?”

Keduanya berpagut lagi. Belum tuntas juga mereka melepas seluruh kerinduan. Apakah memang begitu rindu yang membeku? Ditam sangat menikmatinya. Di mana lagu sendu meningkahi lenguh kehidupan yang kini direguk tak habis-habisnya.

***

Senja meramu jingga. Badul masih berjalan tak tentu arah. Hari ini masih nihil. Tak ada sedikit pun jejak perjalanan Ditam ditemui. Kalaupun bertemu, hanya sebatas nomor telepon yang tak lagi aktif didapat.

Sementara itu, uang di kantong kian menipis. Ia berjalan di pusat keramaian. Masih ia harapkan bertemu dengan wajah yang dicari. Walau hatinya sendiri tak begitu yakin dapat mencari seseorang di tengah kota seramai ini.

Senja merangkak malam. Lampu jalanan mulai menyala. Badul masih terus berjalan. Entah ke mana badan hendak dibawa, ia juga tak tahu. Malam baru dimulai.

***

Mereka baru pulang dari tempat hiburan malam. Ada aroma peluh bercampur parfum yang mereka pakai. Tampak lelah dan mengantuk. Mereka seperti mabuk. Malam sangat gemerlap. Lampu jalanan, gedung-gedung seperi hidup, langit cerah berbintang. Di antara mereka, seseorang melihat jalanan dari taksi yang ditumpanginya. Ia melihat seorang laki-laki tertidur di halte. Sepertinya ia kenal, tapi cepat-cepat ia memeluk erat teman di sebelahnya. Taksi melaju dan berkelok ke jalan kecil. Di depan sebuah rumah, dua orang perempuan keluar dari pintu taksi itu. Pakaian mereka seksi sekali.

”Ini malam ulang tahunmu. Aku punya hadiah.”

”Kau selalu membuat kejutan.”

”Ya. Kita harus merayakannya. Belum puas bergoyang di pub tadi.”

Lagu sendu mengalun. Minuman dari kulkas dihidangkan. Mereka berdansa. Menyatukan badan. Satu sebagai suami, satu lagi sebagai istri. Sepasang kekasih.

***

”Emak telah curiga dari awal. Ketika mereka pulang bersama, Emak heran. Mereka seharian di kamar. Seperti pengantin baru, jarang keluar kamar. Pernah Emak menegur mereka, tapi Ditam dan Caca tertawa. Teguran Emak mereka jawab dengan memeluk Emak erat-erat seperti anak kecil. Heran.”

Cerita emak saat melepas keberangkatan menjawab curiga Badul selama ini. Sebuah foto dalam dompet Ditam tak pernah dibuang sejak pernikahan dengannya. Foto Ditam dan seorang perempuan.

”Ini Caca. Sahabat waktu kerja. Kami punya kenangan indah di tempat kerja dan tempat kost.”

Ini pengakuan Ditam yang tak membuat Badul curiga dan perlu bertanya berkali-kali lagi. Dia pun tahu sedikit tentang Caca lewat cerita Ditam. Badul tak tertarik untuk tahu.

Kini, ia menyesal. Kenapa tak bertanya tentang Caca lebih jauh waktu itu. Kenapa membiarkan seluruh kehidupan masa lalu Ditam dibawa pergi. Kenapa waktu tiga tahun pernikahan tak pernah terbesit masalah ini? Sesal itu tak pernah berguna. Kini kenyataanlah yang harus ditempuh.

Ingatan tentang malam pertama, kedua, dan seterusnya, bagi Badul adalah hiburan sepanjang perjalanan. Indah dan hanya satu kecurigaan itulah yang muncul, soal foto dalam dompet. Selebihnya tidak. Badul merasakan mendapat istri yang setia, cerdas, dan hitam manis. Patut dibanggakan, walau belum dikarunia anak.

Dua kali Ditam keguguran dan pembuahan itu belum terjadi lagi. Badul menganggap itu bukan masalah besar. Baginya, ini persoalan rezeki dan keikhlasan dari yang di Atas sana. Ada tidaknya keturunan cintanya tetap besar kepada Ditam.

”Ada nomor telepon yang bisa dihubungi? Mungkin teman Ditam yang lain? Yang pernah tinggal bersamanya di sini?”

Perempuan itu mencatat beberapa digit angka. ”Semoga masih aktif. Ini nomor yang pernah menghubungi. Waktu itu ia masih kerja di sini. Tak tahu, sejak Ditam keluar, dia juga keluar. Mereka memang teman akrab.”

Badul telah beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon itu. Tapi tak pernah aktif. Kini ia berpikir tentang pulang. Tentang rasa lapar, ongkos naik bus, dan seterusnya. Ia tersandar di sebuah halte. Tapi, matanya masih nyalang, melihat orang-orang yang lewat. Ia melihat setiap wajah perempuan. Tapi belum juga ia temukan wajah Ditam. Juga wajah Caca. Wajah yang kedua ini, samar-samar mulai ia ingat.

***

Caca pergi kerja. Ditam sendirian di rumah. Ini membuat ia teringat kampung halaman yang dua minggu lalu ditinggalkannya. Ditam ingat suaminya, Badul. Laki-laki yang terlalu alim dan tak punya daya untuk mengekplorasi seluruh potensi tubuhnya. Iba juga hati Ditam, tapi panggilan menemui Caca memang telah mengubah segalanya. Semua berawal dari pesan pendek Caca: ”Segelas madu yang setia menunggu, mari bertemu mereguk setiap waktu.

Pesan pendek itu masuk sehari menjelang keberangkatan. Pesan yang menggerakkan Ditam untuk meninggalkan seluruh kehidupan dusun yang pernah ia rindukan. Dusun yang pernah memanggilnya pulang. Tapi kini ia tinggalkan lagi. Sebuah alamat mengiringi pesan pendek itu.

Ada tetes di pipi Ditam. Cepat-cepat ia hapus. Takut kalau Caca tahu tentang air mata yang menetes. Sebab, itu tak boleh terjadi.

”Bukankah kita harus menikmati kehidupan ini?” Begitu Caca menyatakan pandangan hidupnya. Caca perempuan lincah yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Ia punya masa lalu kelam. Terlibat narkoba dan diperkosa kekasih. Sejak itu ia membenci laki-laki. Mereka berdua bertemu di pabrik kayu sebagai sesama buruh perempuan. Beberapa tahun hidup bersama di satu kost. Di sinilah, rasa cinta tumbuh di antara mereka. Cinta yang ganjil, tak banyak yang tahu.

Ditam menghidupkan handphone yang telah lama dimatikan. Ada belasan pesan pendek yang masuk. Ia membacanya satu-satu. Umumnya dari kampung halaman. Yang paling banyak dari Badul. Tak lama setelah itu, handphone berdering. Ditam membiarkan dering itu. Nomor telepon yang tertera kode lokal kota ini. Angin menerpa wajahnya dari jendela kamar. Ragu dan malu ia untuk menekan tombol penerima sambungan. Apa mungkin itu dari Bang Badul? Tanya itu hanya sekelibat saja. Ia akhirnya membiarkan hingga tertera tulisan di layar handphone: panggilan tak terjawab.

***

Badul benar-benar kehabisan uang. Sebentar lagi ia akan menjual handphone yang kini dalam genggaman. Cuma itu jalan satu-satunya untuk ongkos pulang. Selebihnya, ia hanya ingin membuang resah. Resah di hatinya kini bersarang dendam.

Kini, ia tak berani lagi menekan tuts telepon wartel di sebuah gang. Sebab, nada sambung saja, juga menelan uangnya. Dan itu uang recehan penghabisan. Terakhir tadi, ia menekan nomor handphone Ditam. Aktif dan berdering, tapi tak diangkat. Degup jantung Badul berpacu menunggu saluran diterima di seberang sana. Tapi itu tak terjadi. Badul mengigil. Lalu meletakkan gagang telepon. Di dadanya, ada rasa sakit yang tak terperi. Nyeri. (*)

Balaibaru Padang 2010

*) Abdullah Khusairi , lahir di Sarolangun, Jambi, 16 April 1977. Cerpen dan esainya tercecer di Opera Zaman (Grafindo; Jogja 2006), Kumpulan Cerpen Khas Ranesi (Grasindo, 2007), Taufik Ismail di Mata Mahasiswa (Horison, 2008), Sebilah Sayap Bidadari Kumpulan Puisi Mengenang Gempa 7,9 SR Sumbar (Pustaka Fahima, 2010)

%d bloggers like this: