Terenyuh Sepasang Duda di Maliawan

11 Jul

SEPASANG duda di gunung Maliawan. Wajahnya sendu. Keduanya bergerak ke Istana Guakiskenda. Jaraknya masih bergunung-gunung. Nun di balik gunung terakhir, di bekas istana raja raksasa Maesasura itu bersinggasana Resi Subali. Sosoknya kera. Matanya tajam. Dan ia sakti. Dasamuka dan Dewa Indra di kahyangan bahkan takluk. Permaisuri Resi Subali itulah Dewi Tara.

Dewi Tara…Dewi Tara..Putri Batara Indra. Engkaukah itu, perempuan ayu yang mendudakan banyak lelaki?

Duda pertama Sugriwa namanya, adik kandung Resi Subali. Wujudnya juga rewanda, monyet. Ia pun sakti. Tak aneh, keduanya putra Resi Gotama yang digdaya di Gunung Sukendra. Namun sesakti-sakti Sugriwa apalah artinya dibanding Subali.

Tendangan sakti Sugriwa di hari budha alias Rabu dahulu telah meluluhlantakkan Subali di atas tanah. Lihatlah! Aji Pancasonya membangkitkan Subali kembali hidup. Begitu mayatnya menyentuh bumi, Subali kembali gumregah segar bugar. Seketika ia banting Sugriwa. Sugriwa menyerah, sekaligus wajib menyerahkan istrinya, Dewi Tara, menjadi istri sang kakak.

Kini tinggal segunung lagi perjalanan sepasang duda ke Guakiskenda, di balik gugusan kabut, istana pengantin baru Subali-Dewi Tara. Kepada diri sendiri yang sedang dilanda sunyi Sugriwa bertanya, ”Sanggupkah bersama pertolongan duda yang baru kukenal di sebelahku ini…hmmm… Sanggupkah aku merebut Dewi Tara dari rengkuhan kakakku?”

***

Ponokawan Petruk juga bertanya, kok Wayang Durangpo hari ini nggak ada ngawur-ngawurnya babar blas ya. Nggak kritik sana nggak kritik sini. Mana bahasanya sok tertib lagi, kayak orang-orang manis di universitas.

”Mungkin karena dalang sudah merasa nggak ada gunanya lagi ngritik, Truk,” celoteh Bagong, bungsu ponokawan. ”Kan kritik hanya mempan ke orang yang masih punya malu. Padahal kita sudah lama paceklik isin, kehabisan rasa malu. Pamong daerah yang sudah dua periode mimpin, masih mau tanduk lagi. Kalau ndak gitu, ndorong-dorong istri-istrinya jadi pemimpin baru.”

”Belum lagi, Truk, wakil rakyat, gaji wis sak langit, masih minta dana ini-itu. Abis itu penegak hukum nggak idep isin punya rekening gemuk, tambah ndak malu lagi malah ingin menyelikidi siapa yang main bocorkan nomor rekening. Tak pikir-pikir setelah semua itu kita terus tobat, kembali punya kerasamaluan. Eh, belum. Konco-konco yang ngurus sepak bola, sudah tahu sepak bola kita dedel duwel, perlu perhatian perlu duit perlu ini-itu yang diperlukan buat perbaikan, malah duitnya diperlukan untuk jalan-jalan rombongan ke Afrika Selatan.”

Gareng si tukang analisis mencoba tak turut larut dalam problem sosial. Sulung ponokawan ini mencari-cari kemungkinan lain. ”Wayang Durangpo bisa saja jadi kayak sekarang karena ”Batara” Arief Santosa. Pukulun itu dewa dari Kahyangan Graha Pena yang menjaga rubrik ini dan ngasih kemerdekaan. Katanya ndak harus ada kritik sosial. Kalau memang lagi ndak mood ngritik sosial, ya ndak usah dipas-paskan dengan peristiwa sosial. Berdiri sendiri saja. Begitu dawuhnya Kanjeng Batara. Dan ndak usah mikir macem-macem. Dalang kan juga manusia. Siapa tahu Wayang Durangpo bisa jadi kayak sekarang ini karena dalangnya lagi jatuh cinta kepada anake sing dodol rujak cingur…”

***

Ooo…Cinta…cinta adalah seluruh keherananku kepada manusia...(kutipan syair Afrizal Malna)

Sugriwa ingin lebih banyak mengadu pada duda yang baru dikenal di sebelahnya. Tetapi bagaimana caranya? Lelaki tampan itu juga terlunta-lunta, baru saja kehilangan istri di hutan Dandaka. Bagaimana Sugriwa akan menumpahkan perasaannya pada lelaki yang matanya sedang menerawang tak tentu langit? Malah lelaki ini kadang bercakap-cakap kepada akar dan perdu, tersenyum dan sesenggukan, seakan pohon dan dedaunan adalah mantan istrinya yang berdenyut di dalam hutan.

Suatu fajar, sorot matahari bermasukan dari sela-sela rerimbun hutan membentuk jutaan benang cahaya, lengkap dengan semburat warna-warninya pada kolang-kaling, langsep, jambu bol, kedondong, blimbing wuluh, dan lain-lain, lelaki tampan itu siuman dari gandrung-nya. Ia ingin berbagi pada Sugriwa. Bagaimana rasanya pernah memiliki istri setia. Baru manten anyar, lelaki ini diusir ke tengah hutan. Lelaki itu bergegas pergi sendiri ke belantara karena tak ingin menyusahkan istri. Tapi sang istri nangis-nangis bergelayutan nggondeli suaminya terkasih, minta diajak serta. Ia tak tega suaminya sendirian di kelembaban yang asing. Hari-hari mereka lalui berdua di peraduan hutan sampai tiba-tiba sang istri lenyap.

Lelaki yang baru tersadar dari kasmaran itu tak bisa menumpahkan segalanya kepada Sugriwa karena, seperti bergiliran, Sugriwa kini malah sedang dilanda kunjana papa. Kunjana sakit. Papa edan. Sugriwa kelimpungan pada mantan istrinya, Dewi Tara.

”Sugriwa, aku akan membela kamu. Bisa kuhayati sebeban apa rasa dipisahkan dari perempuan tercinta…”

”Aku yang akan membelamu, hei lelaki!!!” teriak Sugriwa, ”karena telah aku alami beban terpisah dari wanodya yang kita cintai…”

Sehabis teriak tiba-tiba Sugriwa terbahak-bahak, tiba-tiba menangis. Ada ular, dipeluknya ular. Dielus-elus dan diciuminya taksaka itu seakan-akan ia Dewi Tara.

”Oh, Dewi Tara,” desah Sugriwa selepas rangkulannya dari sang ular. Ia kini memeluk singa, berbincang kepadanya. ”Dahulu tak salah aku nikahi kamu, Tara. Batara Indra janji, siapa sanggup membunuh Maesasura dan tunggangannya, Jatasura, akan mendapat cintamu sebagai anugerah. Kakakku Subali masuk ke istana megah yang mulut gerbangnya bagaikan gua mengerikan itu. Aku tak boleh masuk. Aku disuruh menunggu di depan mulut gua. Kakakku Subali yang berdarah putih itu bersabda, kalau nanti mengalir darah putih di mulut gua, berarti aku yang mati. Tutup lekas-lekaslah pintu gua, agar semuanya mati di dalam gua…”

Kini Sugriwa memindahkan dekapannya pada trenggiling. Di matanya, hewan ini adalah sang dewi yang tiada tara. ”Aku sayang banget sama kamu, Tara. Aku lanjutkan ceritaku, ya Tara. Ternyata yang mengalir di mulut gua darah merah dan putih. Sedih sekali kakakku mati. Aku segera naik ke kahyangan melapor Batara Indra. Saking bahagianya atas kematian pengacau kahyangan Maesasura dan Jatasura, Batara Indra menghadiahkan putrinya sebagai istriku…”

Bagai lolong serigala Sugriwa lalu berteriak kepada sulur-sulur rimba, mengagetkan perkutut, betet, drekuku, sriti, murai, dan blekok. ”Oooo Mas Budionoooo, Mas Budionoooo...tulung gambar ilustrasi Wayang Durangpo sekarang yang romantis banget ya….bagai tembang Dhandhanggula Sidoasih

Pamintakuuuuu…Nimas Sidoasiiiih…Anut runtut tansah reruntungaaaaan…..”

***

Yang tewas di Guakiskenda ternyata cuma Maesasura dan Jatasura. Yang putih-putih bukan darah Subali. Warna putih hanya ceceran otak raksasa dan tunggangannya. Subali ngamuk. Pintu gua didobrak, dijebolnya. Ia banting Sugriwa hampir mati. Untung adik yang dicintainya itu masih sempat meruntutkan apa yang sesungguhnya terjadi. Hati Subali luluh. Ia serahkan istana Guakiskenda. Didoakannya pula pernikahan Sugriwa-Dewi Tara langgeng di dalam cinta.

Tapi Rahwana menyusupkan Wil Sukasrana. Mata-mata ini berubah rupa menjadi inang pembantu Dewi Tara. Suatu hari inang pembantu Dewi Tara itu mengarang-ngarang cerita. Ia mengada-ada dan mengadu pada Subali bahwa Dewi Tara dipukuli Sugriwa. Pasalnya, Dewi Tara merasa, yang berhak menikahinya adalah Subali, karena Subalilah yang berhasil membunuh Maesasura dan Jatasura.

Amuk! Amuk! Amuk!

Subali menggempur istana Guakiskenda. Ia hajar habis adiknya yang tak tahu apa juntrungannya tiba-tiba dihajar. Sugriwa lalu dilemparnya hingga jatuh ke Gunung Wreksamuka di sekitar Maliawan. Hari itu juga Dewi Tara direbutnya sebagai istri bahkan hari ini telah mengandung anaknya.

Dan hari ini, sepasang duda itu telah sampai di mulut Guakiskenda. Sugriwa menyumbarkan tantangan. Subali keluar. Peristiwa dulu-dulu terulang kembali. Subali berkali-kali membanting Sugriwa. Saat Sugriwa makin sekarat, tatkala Subali terakhir akan membantingnya, rongga dada Subali panas dadakan. Mendidih. Ada panah nancap di situ dan melontarkan Subali mengambang tak menyentuh bumi.

”Panah kamukah ini, Kisanak?” tanya Subali tersengal-sengal kepada lelaki yang tiba bareng Sugriwa. ”Tak pangling lagi aku. Hanya panah Guwawijaya yang akan sanggup menyudahiku. Ini pusaka dari Ayodya. Jadi, kamu Prabu Ramawijaya?”

Mestinya Sugriwa kaget mendegar bahwa duda teman seperjalanannya ternyata titisan Batara Wisnu. Tapi badannya yang nyaris remuk masih menahan sakit sambil memandangi Dewi Tara. Siapa yang ditangisi sang dewi? Dirinya yang babak belur? Atau waspa Dewi Tara itu sejatinya menetes untuk yang baru wafat, tapi mengapa Wisnu lebih ingin Tara kembali kepadaku?

Duda yang satu lagi tak sempat mendengar namanya disebut-sebut oleh Subali sebelum tewas. Ia juga tak tahu bahwa sikapnya sedang direnung-renungkan oleh Sugriwa. Jiwanya masih terhuyung-huyung pada cintanya yang telah lenyap.

Dalang juga bingung bagaimana seyogyanya mengakhiri lakon ini. Hatinya masih sempoyongan…pada anake sing dodol rujak cingur…

*) Sujiwo Tejo tinggal di http://www.sujiwotejo.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: